Jakarta, BusinessNews Indonesia – Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A Sarwono menilai kondisi perekonomian global yang masih bergejolak ternyata tak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan nasional.
Hal tersebut terjadi terhadap korporasi besar di perbankan yang masih mencatatkan kinerja yang positif di paruh pertama tahun ini.
Seperti bank di kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) IV, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) mencatatkan laba yang besar. Juga bank besar di BUKU III, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk pun ikut meraih laba.
“Kalau kita melihat laporan keuangan (Kuartal II-2018) mereka, ternyata bank-bank papan atas sudah mengeluarkan statement ke publik bahwa rata-rata dari mereka masih mencatatkan keuntungan yang meningkat,” tandas Hartadi di Jakarta, Jumat (3/8/2018).
Dengan performa perbankan di dalam negeri yang masih mampu mencatatkan kinerja positif di tengah gejolak ekonomi global itu, maka kata dia, BI tetap memiliki ruang untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate yang saat ini di level 5,25 persen.
“Saat ini situasi suku bunga sudah mulai meningkat, cost of fund (biaya dana) juga sudah mulai meningkat. Artinya kegiatan ekonominya sendiri belum pulih sepenuhnya, seperti yang kita harapkan. Tapi mereka sudah catatkan laba,” tuturnya.
Sehingga dengan kondisi demikian, menurut Komisaris Utama Bank Mandiri itu, BI tetap memiliki ruang besar untuk menaikkan suku bunga acuan. Sekalipun jika dilihat dari faktor lain, kebijakan itu yakni kembali menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sangat sulit dilakukan bagi bank sentral itu.
“Memang situasinya belum membaik secara optimal, namun perbankan masih bisa survive dengan menghasilkan profit yang baik ya,” pungkas dia.
