Jakarta, BusinessNews Indonesia – Industri pembiayaan konvensional saat ini masih belum cukup untuk dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, Bank Indonesia (BI) berharap banyak pada perkembangan industri financial technology (fintech) untuk dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi antara 5 – 6 persen.
Menurut Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Erwin Haryono, pertumbuhan industri pembiayaan saat ini baru sekitar 13 persen. Sementara untuk dapat mengejar pertumbuhan ekonomi antara 5 – 6 persen dibutuhkan minimal pertumbuhan industri pembiyaaan hingga 16 persen. Artinya masih kurang 3 persen untuk mencapai target tersebut.
Erwin berharap hadirnya fintech dapat menjadi jembatan sekaligus solusi untuk mengatasi kekurangan tersebut. Meskipun banyak pihak menyatakan hadirnya fintech akan memggerus industri pembiayaan konvensional, Erwin menegaskan justru fintech akan menjadi pelengkap dari industri pembiayaan yang ada.
“Harapan kepada fintech sangat besar, sayangnya, sampai saat ini harapannya itu masih belum terpenuhi oleh fintech. Apa yang ingin kami sampaikan, harapan kepada fintech sebagai industri yang berkembang baik itu sangat besar sehingga area pengembangannya juga besar,” kata Erwin di Jakarta, Rabu (8/8/2018).
Menuru Erwin, kelemahan dari lembaga pembiayaan konvensional memang belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat di seluruh wilayah terutama di pelosok. Oleh sebab itu fintech harusnya menjadi solusi dari persoalan tersebut sehingga dapat saling melengkapi. BI membutuhkan industri fintech yang serius untuk bekerjasama memberikan pelayanan finansial kepada seluruh lapisan masyarakat.
“Harapan kami kepada industri fintech sangat besar. Harusnya saling mendukung, walaupun kita punya perbankan yang sangat bagus, kenyataannya ada sektor-sektor yang belum tersentuh. Jadi kami butuh pemain fintech yang serius,” ujar Erwin.
