
Jakarta, businessnews.id — Ketua Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK) Rizal Djalil mengatakan, nasib perusahaan penerbangan Merpati Nusantara sangat ironi. Manajemen operasional yang buruk menyebabkan lahirnya akumulasi kerugian selama empat tahun. “Ini memilukan karena penerbangan swasta banyak yang mencapai sukses,” kata dia dalam Sidang Paripurna DPR RI, di Jakarta hari ini.
Rizal mengatakan, berdasarkan pemeriksaan BPK ke Merpati, didapati bahwa sejak 2009 sampai September 2013, pendapatan usaha lebih kecil daripada biaya. Penumpukan utang terus terjadi. “Per 31 Oktober 2013, akumulasi utang mencapai Rp 7,29 triliun,” kata dia.
Bentuk nyata manajemen operasional buruk itu, antara lain, kurang cermat dalam perencanaan jumlah armada. “Begitu pula dalam pengadaan suku cadang dan lain-lain.”
Lebih lanjut Rizal mengatakan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) patut bertanggung jawab atas situasi Merpati itu. Dengan demikian, hal seperti itu tidak terjadi lagi di masa mendatang.
Dia pun menjelaskan, hasil pemeriksaan BPK pada semester II tahun 2013 menyimpulkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum efisien dalam mengawasi peredaran obat. Antara lain, perizinan obat terlalu panjang dan rumit.
“Itu berakibat kepada mahalnya harga obat. Jadi, perlu upaya nyata untuk memurahkan obat,” kata dia. (DHI)
EDITOR: DHI