Jakarta, BusinessNews Indonesia – Kinerja Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sepanjang kuartal II-2018 menorehkan hasil negatif. Dari sisi pendapatan, tercatat anjlok hingga 22,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Dari sebelumnya mencapai Rp116,35 triliun di kuartal II-2017 menjadi Rp89,73 triliun pada tiga bulan kedua di tahun ini. Kondisi ini dipicu oleh hasil investasi yang merosot tajam sepanjang kuartal II-2018 tersebut.
“Turunnya pendapatan premi ini karena hasil investasi yang negatif. Meski begitu kontribusi jumlah investasi masih tinggi terhadap total aset,” ungkap Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim, di Jakarta, Senin (27/8/2018).
Menurut dia, anjloknya hasil investasi ini tak lepas dari merosotnya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun ini. Sehingga berkontribusi terhadap penurunan nilai investasi yang mencapai 135,5 persen secara yoy.
“Dari sebelumnya Rp23,52 triliun menjadi negatif Rp8,35 triliun. Tapi kami lihat trennya memang masih turun, sekalipun penurunannya itu ada batasnya,” jelas dia.
Meski hasilnya menurun, kata dia, jumlah investasi sepanjang kuartal II-2018 itu tetap meningkat sebesar 2,4 persen secara yoy. Dari Rp435,59 triliun menjadi Rp445,83 triliun.
“Dengan porsi portofolio terbesar masih di instrumen investasi reksadana dan diikuti oleh investasi di saham. Porsi di deposito tetap masih kecil,” jelas dia.
Sampai kuartal II-2018, instrumen reksadana tercatat 33 perden, kemudian saham 31,6 persen, Surat Berharga Negara (SBN) 13,8 persen.
Kemudian untuk deposito (10,6 persen), sukuk koperasi 6,9 persen), penyertaan langsung (1,7 persen), properti dan bangunan (1,4 persen), dan lain-lain (1 persen).
Meski hasil investasi menurun, dirinya tetap optimis hingga akhir tahun akan bertumbuh positif. “Karena kami lihat penurunan ini memang sudah diprediksi oleh industri asuransi dan kami yakin masih ada potensi untuk dapat hasil lebih baik lagi,” ujar Hendrisman.
Sementara itu, kata dia, jumlah investasi yang naik 2,4 persen itu telah membuat total aset AAJI jadi naik 1,2 persen dari Rp493,99 triliun menjadi Rp499,96 triliun.
