Jakarta, BusinessNews Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksikan masih akan melanjutkan pelemahanannya. Pasalnya, sentimen negatif global menjadi katalis utama.
Mengutip Bloomberg hari ini, rupiah dibuka terjun bebas ke level terendah terbarunya posisi 14.710. Atau melemah 30 poin atau 0,20 persen dari penutupan kemarin di level Rp14.680.
Menurut analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, pergerakan Rupiah tampaknya berpeluang kembali melemah seiring penguatan yang terjadi pada USD, karena permintaan meningkat atas mata uang tersebut.
“Kendati dari dalam negeri terdapat upaya untuk menahan pelemahan Rupiah dan ada beberapa berita positif tampaknya akan tertutupi dengan sikap pelaku pasar yang meningkatkan permintaan akan USD tersebut,” jelas Reza dalam daily report-nya, Jumat (31/8/2018).
Reza pun memproyeksi pergerakan rupiah akan berada di rentang 14.696-14.680. Sekalipun sudah melewati batas kisaran resistans-nya.
Sebelumnya, menurut Reza pelemahan rupiah yang terjadi itu karena pasar merespon rilis kenaikan pertumbuhan ekonomi AS. Termasuk juga kembali meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar jelang kesepakatan dagang antara AS-Kanada turut menaikkan permintaan aset-aset safe haven, terutama USD.
Di sisi lain, kata dia, pelaku pasar juga khawatir masih berlanjutnya potensi perang dagang terutama setelah AS kembali akan kenakan tarif tambahan atas impor sejumlah barang dari Tiongkok senilai US$ 20 miliar.
Sedang dari dalam negeri, hasil Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyebut, stabilitas jasa keuangan dan likuiditas pasar keuangan Indonesia terjaga dengan baik tampaknya kurang direspon pasar.
“Untuk itu, pelaku pasar tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah,” saran dia.
