Jakarta, BusinessNews Indonesia – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan awal pekan ini kembali berada di teritori negatif.
Mengutip Bloomberg, Senin (17/9/2018), mata uang NKRI itu dibuka di level Rp14.862. Posisi melemah jauh dari penutupan akhir pekan lalu di posisi Rp14.806 per USD.
Menurut analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, pergerakan rupiah sebetulnya masih ada peluang untuk menguat, apalagi masih ada sentimen positif di dalam negeri.
“Makanya diharapkan laju rupiah dapat kembali berlanjut menguat, sehingga mengurangi potensi pelemahannya,” jelas dia di Jakarta, Senin (17/8/2018)
Namun demikian, kata dia, pelaku pasar harus antisipasi adanya rilis kenaikan penjualan ritel AS.
“Karena hal itu dapat berpotensi memberikan sentimen positif pada USD yang dibarengi dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS yang berarti melemahkan rupiah,” jelas dia.
Sebelumnya, lanjut dia, beberapa sentimen positif telah mengangkat rupiah ke zona hijau. Seperti sentimen yang cukup positif dari pernyataan IMF yang mendukung langkah Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia dalam merespons aksi jual yang melanda _emerging market_ beberapa waktu ini.
Termasuk juga, Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah untuk mengurangi risiko terjadinya arus modal asing keluar, memperketat impor, dan mengendalikan defisit neraca berjalan sebesar 3% dari produk domestik bruto (PDB).
“Dengan kondisi demikian, laju support-resisten rupiah akan bergerak di rentang 14.825-14.790. Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” pungkas dia.
