Jakarta, TopBusiness – PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) melihat prospek industri makanan dan minuman (mamin) masih positif. Hal ini seiring dengan bertambahnya populasi dan daya beli kelas menengah yang meningkat.
Untuk itu, dalam rangka menjaga pasokan, perseroan merencanakan untuk membangun satu pabrik baru di tahun depan. Bisnis industri ini sendiri bertumbuh secara kuantitas mencapai 8 persen di Kuartal I-2018.
“Yang pasti akan ada pabrik baru di 2019. Nanti akan kami umumkan pada awal tahun depan, saat ini kami masih mengkaji dan melihat prospeknya seperti apa,” tegas Direktur Utama Garudafood, Hardianto Atmadja di Jakarta, Rabu (10/10/2018).
Menurut dia, saat ini pasar makanan ringan sedang berkembang lebih cepat ketimbang pasar domestik. “Sekarang ini fokus (ekspor) kami di negara-negara Asean serta Asia, karena budaya dan populasi kita di situ akan menjadi based market kami di masa depan,” katanya.
Sejauh ini, imbuh dia, ekspor Garudafood baru sebesar 5 persen dari total penjualan dan diharapkan menjadi double digit dalam kurun waktu 2-3 tahun ke depan.
“Hari ini kami mencatatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia dengan dana yang masuk hampir Rp1 triliun (Rp979,48 miliar),” kata Hardianto.
Lebih laanjut dia menjelaskan, dana IPO tersebut akan dimanfaatkan untuk modal kerja dalam upaya pengembangan dan penguatan posisi bisnis. Hardianto menegaskan, aksi korporasi ini akan menjadi momentum bagi Garudafood untuk mengoptimalkan peluang pasar domestik dan Asean.
Lebih jauh dia menegaskan, berdasar data Nielsen prospek bisnis mamin di Indonesia sangat potensial, seiring dengan pertumbuhan populasi dan daya beli penduduk kelas menengah. Kata dia, pada Kuartal I-2018, kuantitas pasar makanan ringan di Indonesia bertumbuh 8 persen dan pasar biskuit 5 persen.
Sedang berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kontribusi industri makanan dan minuman terhadap PDB industri non-migas mencapai 34,95 persen di Kuartal III-2017.
“Kami berharap kinerja positif Garudafood akan memberikan nilai tambah bagi investor dan stakeholders,” harap dia.
Di tempat sama, Direktur Keuangan Robert Chandrakelanaa Adjie menambahkan, pada tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal (capitak expenditure/capex) sebesar Rp800 miliar.
“Capex kami sebenarnya selalu untuk menambah fasilitas produksi. Kami selalu menambah mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi,” tuturnya.
Robert mengatakan, pada tahun ini perseroan sudah menyerap capex sekitar 60-70 persen. “Memang capex kami untuk yang mesin-mesin, sehingga membutuhkan waktu (penyerapan) yang relatif lama,” jelas Robert.
Penulis: Tomy
