Subsidi silang adalah salah satu instrumen kebijakan fiskal pemerintah berfungsi untuk menjaga kestabilan harga produksi atau jasa tertentu. Tujuan utamanya yakni satu, pemerataan ekonomi. Dari segi keadilan, pemerintah memberi subsidi untuk jenis BBM tertentu bertujuan bagi masyarakat menengah ke bawah tidak tertolong dengan jenis BBM tertentu yang harganya stabil. Maka dari itu lebih baik masyarakat menengah ke atas memilih jenis BBM yang tidak disubsidi oleh pemerintah agar tercipta suatu jenis sistem subsidi yang berkeadilan berlandaskan gotong-royong bersama bernama subsidi silang.
Oleh : Kaukabus Syifa*)
Untuk sederhananya hari yang lalu masih hangat-hangatnya di media elektronik nasional merangkum sebuah artikel yang kami bisa simpulkan bahwa para pelaku industri kecil menengah yang istilah lainnya IKM di bidang ekspor meubel selayaknya memanfaatkan momentum melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan rupiah yang sempat diperkirakan mencapai titik terendah sejak krisis moneter tahun 1998, makin kusutnya geopolitik internasional yang mana satu kubu Amerika Serikat bersekutu dengan Israel bersama Arab Saudi yang diikuti oleh beberapa negara lainnya dan di sana ada kubu sebelah sudah pasti tentunya dipelopori oleh Rusia, Turki, Iran, Suriah, Korea Utara, Tiongkok hingga Venezuela perlu dicermati akar masalah yang berimbas pada bergejolaknya ekonomi dunia.
Jika rupiah melemah nilai tukarnya terhadap valuta asing atau valas khususnya dolar Amerika Serikat sudah sewajarnya pemerintah dalam negeri melakukan pembatasan impor bahkan proteksi atau perlindungan produksi dalam negeri dan berikutnya meningkatkan kegiatan perdagangan yang sifatnya menaikan neraca perdagangan melalui penjualan produk ke luar negeri atau ekspor. Tentu pastinya semakin tinggi produk dalam negeri yang terbeli di pasar internasional maka semakin tinggi pula permintaan akan rupiah.
Dari kejadian itu eksportir-eksportir dalam negeri di samping menjalankan bisnisnya, mereka juga meraup keuntungan yang tinggi bersamaan naiknya nilai dollar Amerika Serikat. Ini adalah kesempatan yang baik mengkonversi dollar Amerika Serikat ke dalam rupiah sebanyak-banyaknya karena inilah level tertinggi kurs valas terhadap rupiah. Jadi umpamanya yang dulu satu set meubel dijual dengan harga 100 USD di saat rupiah di posisi 14.000, sekarang menjadi nilai tertinggi di level 15.000 rupiah per set.
Di saat terjadi ironi di dalam negeri dengan maraknya impor di saat nilai kurs rupiah melemah yang membuat harga produk impor melambung tinggi pada pasar domestik tentunya. Cuplikan di atas betapa komponen atau indikator perekonomian suatu negara tidak berdiri sendiri mutlak hanya ekonomi makro atau fiskal. Tetapi komponen mikronya terkait produksi dalam negeri sangat berpengaruh dalam membangun fondasi ekonomi negara.
Secara nilai tambah hasil produksi industri kreatif sulit ditiru oleh pesaingnya karena dibuat langsung secara hand made tanpa melibatkan mesin otomatis secara masal jadi tiap produk sama dengan dikerjakan satu tangan manusia tenaga kerja. Di antara sektor lainnya sektor industri kreatif selalu mendapat tempat di pasar internasional dalam memenuhi peminatnya karena produk ini bersifat terbarukan dibandingkan sektor pertanian yang cuaca alam berubah ekstrem, perikanan yang jumlah biota laut berkurang karena adanya penangkapan ikan besar-besaran atau masif tak bisa dibendung dan adanya lonjakan permintaan, dan pertambangan cenderung terbatas jumlahnya.
Kesimpulannya sektor mikro atau real itu adalah benteng terakhir sebuah konstruksi perekonomian suatu negara dimana sektor makro sebagai fondasinya. Oleh sebab itu Industri ini harus lah mampu melakukan penetrasi pasar asing sampai saat ini disebabkan mereka memiliki konsumen atau buyer yang telah tersegmentasi.
Di dunia perbankan yaitu Bank Indonesia berhak mengatur tingkat suku bunga atau BI rate apabila keadaan tingkat inflasi negara membahayakan. Sederhananya Bank Indonesia mengatur jumlah cashflow di dalam suatu bank untuk tujuan mengucurkan kredit ke para nasabahnya agar kondisi keungan perbankan sehat atau tidak mengalami kredit macet.
Dalam keadaan inflasi yang tinggi Bank Indonesia akan menaikan suku bunga bertujuan untuk mengurangi jumlah rupiah yang beredar. Dengan dinaikan suku bunga tersebut akan mendorong masyarakat khususnya nasabah bank menyimpan uangnya ke bank sehingga jumlah uang terkendali. Apabila tejadi penurunan harga kebutuhan pokok atau inflasi menurun itu sama halnya dengan perumpamaan banyaknya jumlah produk di pasar domestik sedangkan permintaannya turun.
Maka dengan tujuan meningkatkan daya beli masyarakat, Bank Indonesia menurunkan suku bunga. Tujuannya masyarakat akan menarik uangnya dari bank kemudian dibelanjakan untuk membeli produk yang beredar di pasar. Bank Indonesia juga mengawasi perbankan Indonesia dari praktek nakal perbankan tertentu, membuat atau mencetak uang, mengganti uang yang sudah lama agar menjadi uang yang layak pakai, dan menentukan keaslian uang rupiah.
Dalam keseharian, ada Institusi lain yaitu Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang berada di bawah kemenkeu diberi amanat menjalankan salah satu regulasi dari Bank Indonesia yaitu mengawasi dan melaporkan keluar masuknya uang yang melintasi daerah pabean Indonesia. Dari situ, masyarakat diharapakan ikut serta menjaga kestabilan peradaran uang bersama DJBC dan BI.
Terakhir, dengan jatuhnya nilai mata uang Lira Turki terhadap dolar Amerika Serikat menguatkan adanya pengaruh besar valas bagi perekonomian negara berupa sektor makro, mikro, dan moneternya. Penyebabnya usut punya usut krisis terjadi karena perbankan di Turki saat itu mendapatkan suntikan dana pinjaman dari luar negeri atau investor asing. Dampaknya perbankan memberikan pinjaman atau kredit ke berbagai nasabahnya sehingga geliat sektor mikronya dikatakan baik. Pada kurun waktu yang bersamaan terjadi goncangan atau gejolak pasar valas yang ekstrem mebuat investor panik dan anehnya entah mengapa mereka mengambil dananya dalam bentuk valas dolar Amerika Serikat. Secara linear ini membuat lira terkapar di pasar atau bursa valas.
Kegiatan penarikan atau withdraw dana tersebut dilakukan secara masif sebagai hasil reaksi atas sentimen pasar yang negatif. Efek domino ini merambah ke Venezuela yang memangkas nilai mata uang bolivar hingga kelipatan ribuan. Sebuah nilai yang besar melakukan pemangkasan nilai mata uang atau senering. Dan yang membuat variabel valas itu berpengaruh adalah harga minyak mentah dunia menggunakan harga patokan US Dollar.
Oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat dalam hal ini rakyat Indonesia dan pelaku usaha senantiasa melangkah seirama mengingat sekarang iklim usaha global yang cenderung cepat berubah-ubah akibat faktor beragamnya dan perkembangan media dan teknologi informasi. Jangan sampai terjadi kedaan pemerintah dalam menggaet investor luar negeri untuk menyuntikkan modalnya seluruhnya berasal dari asing.
Justru harus ada terjadi pertukaran atau transferring teknologi pada proses pembangunan infrastruktur atas investor asing misalnya, Sumber Daya Manusianya atau SDM berasal dari dalam negeri di lain pihak teknisi atau operator yang perlu keahlian khusus didatangkan sengaja untuk menutup cela yang tidak bisa diisi oleh SDM domestik seperti pengoperasian Bus, MRT, dan sebaginya. Di bagian pembuatan dan pemugaran jalan dan bangunan dapat tanpa menggunakan tenaga atau SDM asing karena pekerjaan kita yang cukup melimpah jumlahnya. Hal ini mestinya tidak menambah beban neraca perdagangan negara lebih dominan di sektor impor.
Pembelajaran yang dipetik dari peristiwa di atas bahwa ketika rasa nasionalisme muncul maka kita baru menyadari bahwa pentingnya untuk bangga dan menggunakan produk dalam negeri atau yang memiliki komponen lokal jika itu barang jadi. Bangga akan rupiah sebagai pembeda kita dengan bangsa dan negara lain. Bukan bangga banyak menggunkan barang impor. Setidaknya jika kita belum mampu menghasilkan barang untuk bersaing di luar negeri, belilah produk-produk yang memiliki muatan lokal.
Ayolah bukan karena memenuhi nafsu branded semata tetapi lebih pada nasionalisme kita sebagai NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila yang tegak berdiri sejajar dengan sistem kapitalis dan liberal demi kembali stabilnya nilai tukar rupiah.
*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili kebijakan instansi tempat penulis bekerja.
