TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ekspor dan Anomali Surplus Neraca Perdagangan

Nurdian Akhmad
22 October 2018 | 15:52
rubrik: Article, Ekonomi
Tarif Impor 1.147 Produk Dinaikkan Hingga 10 Persen

aktivitas ekspor dan impor barang di pelabuhan/foto: istimewa

Oleh: Sunarsip
Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence

Pekan lalu, BPS mengumumkan kinerja ekspor impor September 2018. Hasilnya, neraca perdagangan (ekspor dikurangi impor) mengalami surplus 0,23 miliar dollar Amerika Serikat (AS) pada September 2018. Kinerja neraca perdagangan tersebut lebih baik dari bulan sebelumnya yang defisit 0,94 miliar dolar AS. Mungkin karena selama 2018 sepi kabar gembira dari sisi neraca perdagangan, publikasi BPS tersebut lantas meramaikan menjadi pemberitaan berbagai media massa yang mengesankan kinerja neraca perdagangan kita membaik. Kita jangan terlalu gembira dulu, karena surplus neraca perdagangan tersebut ternyata tidak berasal dari membaiknya ekspor.

Kalau kita telusuri, perbaikan neraca perdagangan pada September 2018 ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat dan defisit neraca perdagangan migas yang menurun. Namun, membaiknya kinerja neraca perdagangan ini lebih disebabkan oleh impor yang menurun. Sementara itu, kinerja ekspor yang diharapkan naik, justru menurun.

Neraca perdagangan nonmigas pada September 2018 mencatat surplus 1,30 miliar dolar AS, lebih tinggi dari surplus Agustus 2018 sebesar 0,67 miliar dolar AS. Perbaikan neraca perdagangan nonmigas dipengaruhi penurunan impor nonmigas sebesar 1,45 miliar dolar AS (month-to-month, mtm) dan ekspor nonmigas turun 0,82 miliar dolar AS (mtm). Sementara itu, neraca perdagangan migas masih mencatatkan defisit, meskipun menurun. Pada September 2018, defisit neraca perdagangan migas tercatat 1,07 miliar dolar AS, lebih baik dari kondisi Agustus 2018 yang tercatat defisit 1,61 miliar dolar AS. Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh impor migas yang menurun sebesar 0,77 miliar dolar AS (mtm), sedangkan ekspor migas juga menurun sebesar 0,23 miliar dolar AS (mtm).

Meskipun neraca perdagangan September 2018 mengalami surplus, capaian tersebut belum banyak membantu kinerja neraca perdagangan kita selama 2018 (Januari-September). Kinerja neraca perdagangan selama 2018 menurun bila dibandingkan 2017. Selama Januari-September 2018, neraca perdagangan kita mengalami defisit sebesar 3,78 miliar. Capaian ini masih jauh dibawah capaian tahun lalu dimana neraca perdagangan 2017 surplus sebesar 11,81 miliar dolar AS.

BACA JUGA:   Industri Alat Olahraga Catatkan Surplus

Menurunnya kinerja neraca perdagangan selama 2018 ini dipengaruhi oleh menurunnya kinerja neraca perdagangan migas dan non-migas. Selama Januari-September 2018, neraca perdagangan migas telah mengalami defisit sebesar 9,38 miliar dolar AS, melampaui defisit selama 2017 yang mencapai 8,58 miliar. Bila tidak ada peningkatan yang signifikan dalam ekspor migas serta pengendalian impor migas, defisit neraca perdagangan migas diperkirakan dapat mencapai di atas 10 miliar dolar AS pada akhir 2018.

Sementara itu, kinerja neraca perdagangan nonmigas memperlihatkan kinerja surplus yang belum terlalu tinggi. Selama Januari-September 2018, neraca perdagangan nonmigas kita surplus 5,59 miliar dolar AS. Dengan tinggal sisa 3 bulan, hampir dapat dipastikan capaian surplus neraca perdagangan nonmigas 2018 tidak dapat menyamai capaian surplus 2017 yang sebesar 20,39 miliar dollar AS. Kinerja neraca perdagangan nonmigas selama 2018 yang tidak terlalu bagus tersebut terutama disebabkan oleh kinerja pertumbuhan ekspor yang semakin menurun, sedangkan pertumbuhan impornya semakin meningkat.

Selama Januari-September 2018, ekspor nonmigas kita baru tumbuh 9,29 persen. Dengan sisa 3 bulan, sepertinya akan sulit untuk dapat menyamai kinerja pertumbuhan ekspor nonmigas selama 2017 yang mencapai 15,85 persen. Di sisi lain, impor nonmigas mengalami pertumbuhan signifikan, yaitu sebesar 22,66 persen jauh melampaui capaian pertumbuhan impor selama 2017 sebesar 13,43 persen. Konsekuensi dari pertumbuhan ekspor nonmigas yang melambat dan pertumbuhan impor yang naik tajam, neraca perdagangan nonmigas selama 2018 (Januari-September) hanya mengalami surplus sebesar 5,59 miliar, masih jauh dibandingkan capaian 2017 yang surplus sebesar 20,39 miliar.

Kinerja neraca perdagangan, khususnya neraca perdagangan nonmigas, sebenarnya dapat menjadi refleksi dari kondisi dan kinerja sektor riil kita. Meskipun tidak seluruh produksi dari kegiatan ekonomi di Indonesia hasilnya diekspor, namun kinerja ekspor (khususnya) nonmigas dapat menggambarkan bagaimana kinerja sektor riil kita. Dengan demikian, sudah semestinya pelemahan kinerja ekspor nonmigas ini dipergunakan sebagai alat peringatan dini (early warning) untuk melihat secara mendalam kondisi sesungguhnya sektor riil kita saat ini.

BACA JUGA:   Perdagangan RI Kembali Surplus, Pemulihan Ekonomi Makin Cepat

Kinerja ekspor kita, khususnya nonmigas, melemah pertumbuhannya. Saya mengidentifikasi, pelemahan ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, faktor eksternal berupa volatilitas harga dan permintaan yang masih lemah. Kedua, tingkat produksi kita yang melemah karena adanya gangguan dari sisi produksi. Gangguan dari sisi produksi ini antara lain berasal dari adanya tekanan kenaikan harga-harga, terutama harga bahan baku dan alat-alat produksi. Perlu dicatat bahwa impor kita mayoritas merupakan bahan baku/penolong dan barang modal. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS dalam beberapa bulan terakhir diperkirakan turut menurunkan kinerja sisi produksi khususnya industri pengolahan.

Kalau kita cermati, ekspor nonmigas kita yang paling rendah pertumbuhannya adalah ekspor dari hasil industri pengolahan. Selama Januari-September 2018, ekspor hasil industri pengolahan hanya tumbuh 5,71 persen masih jauh dari capaian pertumbuhan selama 2017 sebesar 13,35 persen. Seiring dengan penurunan pertumbuhannya, pangsa ekspor dari hasil industri pengolahan terhadap total ekspor nonmigas juga menurun. Tahun 2016, pangsa ekspor dari hasil industri pengolahan mencapai 82,05 persen, lalu turun menjadi 80,24 persen (2017) dan saat ini tinggal 79,73 persen (Januari-September 2018).

Bila kita sandingkan dengan kinerja industri pengolahan terlihat bahwa penurunan ekspor industri pengolahan ini memiliki korelasi dengan pelemahan kinerja industri pengolahan. Data BPS memperlihatkan bahwa sejak 2015 pertumbuhan indeks produksi industri pengolahan, baik industri besar menengah (IBS) dan industri kecil mikro (IKM), mengalami penurunan. Pada kuartal II-2018, indeks produksi IBS hanya 4,46 persen (year on year, yoy) dan IKM sebesar 4,93 persen (yoy).

Dengan melihat data kinerja ekspor nonmigas (khususnya ekspor hasil industri pengolahan) dan kinerja produksi industri pengolahan patut diduga bahwa kinerja sektor produksi industri pengolahan kita saat ini sedang mengalami gangguan produksi. Dan saya memperkirakan bahwa salah satu faktor yang menjadi penyebab terganggunya produksi tersebut adalah efek dari pelemahan nilai tukar Rupiah yang tajam, sementara sebagian industri pengolahan kita masih menggantungkan impor bahan baku dan barang modal. Lemahnya nilai tukar menyebabkan naiknya harga-harga bahan baku dan barang modal dan diperkirakan mengganggu produksi dan menurunkan ekspor.

BACA JUGA:   Wamendag: Game Online RI Bisa Seperti Korsel

Dengan kata lain, bila kita ingin memperbaiki kinerja neraca perdagangan secara mendasar, maka perbaikan kinerja nilai tukar Rupiah tetap penting dilakukan. Stabilitas nilai tukar penting, namun penguatan nilai tukar juga diperlukan. Pelemahan nilai tukar Rupiah yang terlalu tajam secara alamiah bisa menyebabkan (kedepannya) impor turun, ekspor juga turun. Bisa jadi, fenomena alamiahnya (kedepan) adalah neraca perdagangan surplus, tetapi ekspor turun, karena perbaikan neraca perdagangan disebabkan impor yang turun tajam.

Tags: eksporneraca perdagangan
Previous Post

Raih Rp 5,4 Triliun, Target Penjualan BSDE Capai 75 Persen

Next Post

Dibuka Melemah, Rupiah Kembali Terseret Sentimen Global

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR