Jakarta, TopBusiness – Bank Indonesia (BI) masih tetap mengontrol pergerakan kurs rupiah, meski cenderung mengalami apresiasi. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah, di Jakarta, Kamis (13/12/2018), pihaknya akan terus memberikan ruang penguatan terhadap rupiah sesuai pergerakan atau mekanisme pasar keuangan.
Pada perdagangan kemarin, rupiah tercatat naik hingga Rp 105 per USD Dolar atau 0,71%. Pada JISDOR BI, rupiah terpantau mencapai Rp 14.536 per USD.
Kendati begitu, dia kembali menegaskan, pihaknya tetap mewaspadai. “BI tetap mewaspadai dampak dari dinamika global yang dengan cepat berubah tersebut terhadap pergerakan kurs rupiah ini, dan akan mengambil langkah yang diperlukan dengan “instruments mix” yang dimiliki untuk memastikan kepercayaan masyarakat terhadap rupiah tetap terjaga baik,” kata Nanang.
Dia menilai, kepercayaan pasar terhadap rupiah kuat akibat respon atas keinginan Presiden China untuk membicarakan lanjutan trade issues, rencana penurunan tarif import mobil dari USA. Selain, aksi pembelian soybean untuk pertama kali oleh China dari USA sebagai tindak lanjut pertemuan G-20.
Langkah China lainnya yang direspon positif pasar adalah penundaan Made in China 2025 initiative yaitu rencana untuk mendominasi produk hi tech di tahun 2025, kemudian China akan membuka market-nya bagi perusahaan asing, termasuk USA. Hal tersebut sebagai upaya untuk menurunkan dominasi China dalam industri manufaktur, serta akan lebih terbuka terhadap foreign company di pasar China.
Selanjutnya, pasar global merespon positif kemenangan PM Inggris, yang akhirnya memperoleh dukungan dengan memperoleh 200 suara versus 117 suara dalam kelanjutan mosi tidak percaya oleh Partai konservatif di parlemen dan mengamankan posisinya dalam 12 bulan ke depan.
Penulis: Agus
