TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ekonom: Tekanan Ekonomi 2019 Tak Sedahsyat Tahun Lalu

Busthomi
16 January 2019 | 17:25
rubrik: Ekonomi
Insentif Pajak dan Harapan Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal III 2018

Foto: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – Prospek perekonomian di 2019 ini yang merupakan tahun politik masih tak lepas dari pengaruh perekonomian global. Meski impact-nya tak seberat tahun lalu, tetap pemerintah baru nantinya harus bisa mencarikan solusi yang tepat.

Hal ini seperti disampaikan oleh ekonom senior dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono dalam diskusi ‘Menanti Asa Perekonomian Dua Calon Pasangan Pemimpin Indonesia,’ di Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Menurut Tony, wacana kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed fund rate tak akan seagresif 2018, sehingga relatif akan menguntungkan negara emerging market, seperti Indonesia. Akan tetapi masalah perang dagang (trade war) dan isu Brexit masih menjadi ancaman.

“Ibarat kendaraan, laju ekonomi AS sudah mentok. Sehingga akan keluar jalur. Jadi saya tak percaya Tehe Fed akan naikin suku bunga sampai tiga kali, karena inflasi di AS juga sudah rendah,” tegas dia.

Kondisi tersebut, kata dia, tentu akan menguntungkan Indonesia. Pasalnya, The Fed tak lagi agresif agar laju inflasi AS juga tak terlalu rendah.

“Inflasi di AS sudah 2,5 persen. Mungkin akan naik di angka 2,75 persen. Karena butuh penabung, supaya ada positif real interest rate-nya,” kata dia.

Dengan kondisi demikian, kata dia, ancaman terhadap tingkat suku bunga dalam negeri tak sedahsyat di 2018. “Sehingga hal itu akan sangat positif terhadap rupiah,” ucap dia.

Hanya saja, Tony melanjutkan, terkait perang dagang AS-China masih menjadi momok. Karena inibmasih menjadi ketidakpastian yang membuat semuanya akan menderita.

“Mestinya itu (trade war) AS yang melukai China. Karena defisit perdagangan AS terhadap China sangat besar. Tapi dengan hal itu justru ssemua negara akan suffer (menderita) karena harga jadi mahal,” tegas dia.

BACA JUGA:   Bappenas: Ekonomi Indonesia Maksimal Tumbuh 5,5%

Sedang terkaut Brexit juga masih akan menjadi tekanan besar perekonomian di 2018, meskipun tak sekuat dampak dari kebijakan The Fed.

“Tapi yang penting juga di dalam negeri itu kita masih mengalami tekanan yang besar yakni defisit perdagangan dan defisit neraca berjalan. Itu harus diatasi,” ucap dia.

Penulis: Tomy

Tags: ekonomi
Previous Post

Menkeu: PMK Pajak E-commerce untuk Memudahkan

Next Post

BRI Masih Jadi Jawara Penyaluran KUR

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR