Jakarta, TopBusiness – PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) melalui anak usahanya di Singapura belum lama ini telah menerbitkan surat utang bereupa Notes senilai US$ 175 juta atau setara dengan Rp2,45 triliun (dengan kurs Rp14.000/USD).
Karena surat utang tersebut berdenominasi kurs asing yakni USD, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pun ikut turun tangan. Wasit pasar modal itu telah memantau pihak ASRI untuk memberikan penjelasan terkait aksi korporasi tersebut. Apalagi surat utang tersebut dianggap berisiko tinggi yaitu risiko kurs.
Namun begitu, menurut Sekretaris Perusahaan ASRI, Tony Rudiyanto, terkait dengan Notes yang diterbitkan dalam mata uang asing itu, strategi perseroan untuk memitigasi risiko nilai tukarnya dengan melakukan lindung nilai (hedging).
“Dengana danya hedging ini untuk memitigasi risiko nilai tukar mata uang asing. Sehingga tidak ada fakta material atau kejadian penting yang dapat berpengaruh signifikan terhadap perseroan serta dipandang memengaruhi fluktuasi perdagangan saham ASRI,” ungkap Tony dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (4/2/2019).
Penerbitan Notes ini sendiri, kata dia, yaitu bentuk pembiayaan kembali atas pinjaman lainnya serta akan digunakan untuk modal kerja. Notes sendiri diterbitkan pada 22 Januari 2019 lalu dan akan jatuh tempo pada tanggal 22 April 2021.
“Perseroan menggunakan hasil bersih dari transaksi penerbitan surat utang itu untuk melunasi sebagian sebesar US$ 162 juta dari surat utang senior sebesar US$ 235 juta yang diteritkan pada 27 Maret 2013 lalu,” katanya.
Sementara terkait dengan pemberian operating guarantee atas penerbitan Notes itu terhadap kondisi keuangan perusahaan pengembang properti itu, disebut dia, tidak ada dampak sama sekali terhadap kondisi keuangan perseroan.
“Sehingga risiko yang mungkin itu sudah dijamin dengan corporate guarantee, maka risiko pembayaran penjaminannya tidak ada,” klaim dia.
Penulis: Tomy
