Jakarta, TopBusiness – Pergarakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini sejatinya masih diperkirakan bakal kembali melemah. Namun nyatanya, rupiah dibuka di teritori positif.
Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp14.033 atau menguat 34 poin dari penutupan kemarin di tangga Rp14.067. Bahkan laju rupiah kian perkasa dalam perdagangan satu jam pertama ke level Rp14.022 atau menguat 0,32%.
Namun begitu laju rupiah sendiri masih dianggap berada di sinyal merah oleh kalangan analis. Menurut analis pasar uang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Rully Arya Wisnubroto pergerakan kurs rupiah masih berpotensi melemah karena disokong oleh katalis negatif dari dalam dan luar negeri.
Dari dalam negeri, kata dia, para pelaku pasar juga masih menunggu rilis data neraca perdagangan yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir pekan ini. “Kondisi market masih ‘wait and see’ terhadap rilis trade balance pada Jumat ini. Itu membuat rupiah terkoreksi,” ungkap dia di Jakarta, Rabu (13/2/2019).
Sementara itu masalah tak jelasnya terkait ‘gencatan senjata’ perang dagang antara AS dan China dianggp cukup menekan laju mata uang NKRI itu.
Delegasi AS sendiri pada Senin (11/2) lalu tiba di China untuk melakukan perundingan dagang lanjutan. Kedua negara bermaksud dapat mencapai kesepakatan dagang mengingat tenggat waktu perang dagang semakin dekat yakni 1 Maret 2019 mendatang.
Namun sebelumnya, pernyataan Presiden AS Donald Trump soal rencana pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping kemungkinan besar bakal digelar setelah 1 Maret 2019. Itu membuat kekhawatiran terhadap pasar.
“Makanya rupiah diproyeksi masih akan melemah karena kekhawatiran batalnya kesepakatan dagang AS-China. Juga ada dampak dari negosiasi Brexit. Sehingga Brexit dan trade wars masih tidak ada kejelasan,” tandasnya.
Dengan kondisi seperti itu, dia memproyeksi laju rupiah masih cenderung akan melemah terbatas di kisaran Rp13.980/USD hingga Rp14.135/USD.
Penulis: Tomy
