TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tarif Air Tak Naik Sejak 2008, Ini Strategi PDAM Apa’ Mening

Nurdian Akhmad
4 March 2019 | 16:08
rubrik: BUMD
Tarif Air Tak Naik Sejak 2008, Ini Strategi PDAM Apa’ Mening

Foto: Suharso Rahman

Jakarta, TopBusiness – Kendati sudah sekitar 10 tahun tarif air di Kabupaten Malinau tak naik, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Apa’ Mening tetap bisa bertahan, bahkan secara bisnis makin berkembang. BUMD milik Pemerintah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara ini bahkan terus memperluas layanannya hingga ke daerah terpencil dan perbatasan.

Direktur Utaram PDAM Apa’ Mening Saeful Bachri menjelaskan, sejak awal didirikan, BUMD ini tidak berorientasi pada profit atau keuntungan, tapi pelayanan air bersih kepada masyarakat Kabupaten Malinau.

“Sekitar 90 persen operasional kita berorientasi pada pelayanan masyarakat, sedangkan yang benar-benar untuk profit hanya sekitar 10 persen,” ujar Saeful dalam acara penjurian Top BUMD 2019 di Jakarta, Senin (4/3/2019).

Saat ini, kata Saeful yang juga mantan profesional di Bank Mandiri ini, biaya produksi air bersih yang disalurkan ke masyarakat adalah Rp 3.000 per kubik, sedangkan tarif terendah yang ditetapkan Pemerintah Malinau paling rendah Rp 1.700 per kubik dan tertinggi Rp 4.000 khusus untuk pelanggan industri.

Saeful mengakui, pihaknya tidak bisa seenaknya menaikkan tarif air karena itu harus melalui proses pembahasan antara Pemerintah Daerah bersama DPRD Kabupaten Malinau.

Untuk menyiasati agar pelayanan dan bisnis air tetap berjalan, menurut Saeful, pihaknya melakukan subsidi silang dengan menjual air ke pelaku industri di Malinau dengan harga tertinggi, Rp 4.000 per kubik. “Tapi memang kendalanya di Malinau ini, industri besar masih sedikit,” ucap Saeful yang sudah menjabat sebagai direksi dua periode ini.

Tak hanya itu, menurut Saeful, kondisi geografis Kabupaten Malinau yang cukup luas dan persebaran penduduk yang berjauhan membuat biaya produksi di daerah ini menjadi lebih besar. “Kabupaten Malinau ini lebih luas  dari Provinsi Jawa Tengah, namun penduduknya jauh lebih sedikit. Mereka tersebar berjauhan, sehingga memang cost operation-nya jadi mahal,” tutur Saeful.

BACA JUGA:   TOP BUMD 2019: BPR BKK Kebumen Memiliki Keunggulan SDM Handal

Dengan mengoperasikan lima  instalasi pengolahan air, PDAM Apa’ Mening sampai akhir 2018 melayani 10.387 sambungan. Tingkat kebocoran penyaluran air juga terus membaik dengan capaian saat ini di bawah 20 persen.  “Penerapan aplikasi SCADA sangat membantu kami dalam mengurangi tingkat kebocoran ini,” ujar dia.

Atas kinerjanya tersebut, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Apa’ Mening tahun 2018 kembali meraih penghargaan sebagai PDAM terbaik nasional untuk kategori di bawah 10.000 pelanggan dari Kementerian PUPR. Penghargaan serupa pernah diperoleh pada tahun 2017 lalu.

Selain itu, Direktur PDAM Apa Mening, Saiful Bahri juga dinobatkan sebagai Top CEO BUMD dalam ajang Top BUMD 2017.

Penulis: nrd

Tags: PDAMPDAM Apa' MeningTop BUMD 2019
Previous Post

Lombok Perlu Pengelolaan Terpadu Sumber Air

Next Post

Melalui PLB, ICDX Rilis Kontrak Fisik Timah Murni

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR