Jakarta, TopBusiness – Sejak tahun 2013 PT Pelni sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan core bisnisnya memberikan pelayanan pada bidang transportasi, logistik serta kepariwisataan telah melakukan berbagai perubahan, baik itu membangun budaya kerja dengan tata kelola perusahaan yang baik serta mengelolah dan membangun Risk Management perusahaan atas operasiaonal dengan resiko tinggi.
Upaya ini dilakukan untuk memberikan pertumbuhan bisnis serta dapat memberikan servis terbaik bagi seluruh pelaku bisnis transpotasi laut serta pelayanan penumpang laut bagi masyarakat luas.
Corporate Secretary PT Pelni Yahya Kuncoro dalam sebuah rating Governance Risk Compliance (GRC) yang diselengarakan majalah bergensi Top Business menyatakan, perubahan sangat mendasar dilakukan antara lain dengan menutup celah kebocoran serta pungutan liar di mana-mana mulai dari pembelian tiket serta pungutan liar di pelabuhan bahkan pula terjadi pungutan liar di atas kapal.
“Apa yang dilakukan Pelni untuk menutup lobang pungutan liar tersebut ? Pelni melakukan peningkatan gaji seluruh karyawan sampai lima kali lipat dari gaji sebelumnya. Lantas di buatkan peraturan hukum. Apabila terjadi pelangaran maka si pelaku pungutan liar tersebut langsung dilakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK,” ujar Yahya kepada dewan juri.
Program ini teryata cukup ampuh. Setelah berjalan 4 tahun, tepatnya 2017, program ini sudah membuahkan hasil signifikan. “Walaupun jumlah penumpang kami berkurang, bahkan tetap saja, akan tetapi penghasil Pelni bisa meningkat dikarenakan selama ini banyak oknum karyawan yang melakukan perbuatan kurang baik dengan menaikan penumpang dengan tanpa melalui pembelian tiket secara resmi tapi uangnya dipungut oknum tersebut, oknum gemuk, perusahaan bonyok,” tegas Yahya.
Yahya menjelaskan, perusahaan pelayaran dengan melayani moda trasnportasi laut ini sangat memilliki risiko operasional sangat besar. Maka semenjak tahun 2013 lalu, manajemen sudah menetapkan dan membangun divisi manajemen risiko ini tanpa bisa ditawar-tawar.
“Untuk pelaksanaannya dilapangan pun kami memiliki komite Auditor manajemn resiko ini dan selalu dilakukan Auditor serta pengecekan secara rutin seluruh operasional secara totalitas dari A sampai Z, end to end, agar ancaman resiko ini bisa diminimalisir tentunya,” ujarnya.
PT Pelni, sebgai perusahaan pelayaran nasional telah melakukan stategi bisnis dalam membangun peruashaan ini bisa tumbuh dan berkembang menciptakan laba serta pula memberikan layanan sosialnya kepada masyarakat.
Oleh sebab itu PT Pelni akan menjadi perusahaan professional dalam memberikan pelayanan binisnya dengan focus kepada pelayanan kapal kargo produk batubara, mineral. Serta pula akan memasuki kapal passenger bagi pelayanan industri pariwisata di dalam negeri. Sebagai negeri dengan potensi wisata besar dan tersebar di seluruh nusantara ini, PT Pelni akan menjadikan sektor tersebut sebagai pendorong laba perusahaan.
Untuk pelayan kapal penumpang PT Pelni hanya sebagai Public Service Obligation (PSO) dari pemerintah saja. Karena bisnis pada pada passenger atau penumpang ini tidak sangat ekonomis sekali. Biaya operasional saja tidak bisa menutupi, apalagi diharapkan bisa cipatakan laba.
“PT Pelni akan tumbuh dan besar pada pelayanan kargo di industri pertambangn, energi dan mineral. Pengangangkutan barang mineral ini sangat menjanjikan serta pula kami akan menjadi perusahaan pelayaran professional memberikan service terbaik dalam mendukung industri pariwisata di negeri yang kaya akan potensi wisata alam serta aneka wisata tersebar di nusantara ini,” terang Yahya.
“Tentunya PT Pelni ini akan muncul sebagai perusahaan anak negeri ini sebagai perusahaan moda transportasi laut secara professional dengan tata kelola perusahaan dengan baik dan benar dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Dan perusahaan anak negeri ini tentunya akan menjadi kebangaan pula bagi anak negeri bisa dapat bekerja di perusahaan plat merah ini,” ujar Yahya.
Penulis: Albarsyah
