Jakarta, TopBusiness – PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) memastikan di tahun ini akan terus mengembangkan bisnis di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Untuk itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) hari ini, pemegang saham menyetujui penggunaan seluruh dana dari laba bersih untuk bisnis PLTA ini.
Direktur Bukaka Teknik Utama, Afifuddin Kalla mengatakan, untuk memanfaatkan peluang di bisnis secara maksimal, perseroan telah menyusun strategi yang fokus dan terarah pada bidang ketenagalistrikan dan sektor-sektor terkait lainnya.
Hal ini dalam rangka memfasilitasi ekspansi bisnis di bidang usaha pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan pembangkit listrik tenaga mini hydro (PLTM).
“Pada Tahun 2018 kami telah melakukan Investasi sebesar 25% ke PT Poso Energy yang merupakan Perusahaan yang memiliki PLTA dengan Kapasitas 195 MW. Kami akan meningkatkan kapasitas menjadi 515 megawatt di PLTA Poso I dan Poso II,” tutur dia di Bogor, Selasa (30/4/2019).
Laba bersih 2018 tersebut mencapai Rp573,01 miliar. Dan semuanya akan dialokasikan ke bisnis PLTA. Bahkan, perseroan juga tak membagi dividen kepada pemegang saham.
Dengan kondisi demikian, pihaknya optimis di tahun ini laba bersih bisa dikantongi mencapai Rp668,25 miliar. Hal tersebut umbuh 14,25% dari Rp573,01 miliar di sepanjang tahun 2018 lalu.
Afifuddin menambahkan, pertumbuhan laba bersih akan ditopang oleh pendapatan perseroan tahun ini yang diperkirakan akan mencapai Rp6,25 triliun naik 39,39% dari Rp4,68 triliun di tahun 2018.
“Pemilu sudah selesai kita harapkan pembangunan terus berjalan, mudah-mudahan pembangunan infrastruktur terus digenjot sehingga buat sales Bukaka terus meningkat,” katanya.
Menurut dia, pendapatan terbesar perseroan dikontribusikan dari bisnis engineering, procurement & construction (EPC). “Pendapatan Rp6,5 triliun paling besar dari EPC itu sekitar 50%, kedua proyek tower listrik atau transmisi 15%, ketiga baarding bridge dan lain-lain,” ucapnya.
Lebih lanjut Afif menuturkan pada tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik, yaitu tumbuh sebesar 5,17% lebih stabil bila dibanding dengan pertumbuhan tahun 2017 yaitu sebesar 5,07%.
Faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan antara lain kebijakan pemerintah atau sektoral yang mendukung, peningkatan pengeluaran pemerintah dan peningkatan investasi. Perkiraan pertumbuhan ekonomi ini diharapkan dapat membangun optimisme akan penguatan daya beli konsumen.
“Pemulihan ekonomi ini diharapkan menciptakan peluang bagi pertumbuhan ekonomi regional, sehingga pada akhirnya geliat industri akan mendorong permintaan terhadap penyediaan tenaga listrik yang memadai di berbagai daerah,” pungkas Afif.
Penulis: Tomy
