Jakarta, TopBusiness – Manajemen PT Transcoal Pasific Tbk (TCPI) menargetkan pendapatan perseroan tahun ini naik sekitar 56 persen. Hal ini mempertimbangkan pertumbuhan volume angkutan kargo yang ditargetkan naik 25 persen menjadi 51 juta metrik ton.
“Sedang untuk laba tahun berjalan di 2019 ditargetkan meningkat 50 persen dari laba tahun sebelumnya menjadi Rp 391,81 miliar. Dengan penambahan aset meningkat 20 persen dari Rp 2,75 triliun menjadi Rp 3,32 triliun,” ujar Direktur Utama TCPI, Dirc Richard Talumewo usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Rabu (19/6/2019).
Saat ini, perseroan dan anak usaha memiliki 142 unit armada yang akan terus mengalami peningkatan seiring dengan adanya rencana perseroan membeli dua unit mother vessel, 1 floating crane, 2 pusher tug, dan 1 set tug dan barge di tahun 2019.
“Untuk mencapai target tersebut, perseroan menganggarkan capex (belanja modal) antara lain untuk membeli kapal mencapai Rp750 miliar,” ujar Dirc.
Bagi Dividen 30 Persen
Sepanjang tahun 2018, kinerja bisnis perseroan mengalami peningkatan signifikan. Dari sisi laba bersih perseroan tumbuh 151 persen dari Rp 106 miliar menjadi Rp 256,61 miliar di akhir tahun 2018.
Dengan keuntungan yang luar biasa itu, perseroan melalui RUPST tahun buku 2018 memutuskan untuk membagi dividen sekitar 30 persen dari laba bersih.
“Pembagian keuntungan atau dividen itu setara dengan Rp 15,5 per lembar sahamnya. Jadi sekitar Rp 79,68 miliar,” ujar Richard.
Sedang untuk kinerja pendapatan, kata dia, juga mengalami kenaikan sebesar 50 persen dari sebelumnya Rp1,55 triliun di 2017 menjadi Rp 2,32 triliun di 2018.
Richard menambahkan, peningkatan laba tersebut tak terlepas dari meningkatnya kepercayaan dari klien-klien pengguna jasa perseroan yang saat ini mempercayakan tambahan kargo yang diangkut oleh perseroan sepanjang 2018.
Selain itu, lanjut dia, peningkatan laba bersih juga sebagai dampak dari akuisisi sister company, yaitu Kanz Gemilang Utama oleh perseroan pada Oktober 2018 lalu.
“Dengan akuisisi tersebut perseroan menjadi pemegang saham mayoritas di dua perusahaan pelayaran yang memiliki puluhan armada, yaitu PT Energy Transporter Indonesia dan PT Sentra Makmur Lines,” jelasnya.
Dengan kondisi demikian, perusahaan pun berhasil mengurangi armada sewa dari pihak ketiga yang dioperasikan oleh perseroan selama ini untuk mendukung armada milik perseroan dalam memberikan jasa angkutan kepada klien-klien perseroan.
Dia menyebut, PT Energy Transporter Indonesia memiliki kontrak jangka panjang pengangkutan batubara untuk tujuan atau digunakan oleh Pembangkit Listruk Tenaga Uap (PLTU) di tanah air untuk menyediakan tenaga listrik sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah.
Di samping itu, Richard menambahkan, perseroan juga berhasil menambah customer base dengan mendapatkan kontrak pengangkutan bijih nikel di Sulawesi untuk periode kontrak selama 5 tahun.
Penulis: Tomy
