TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Meningkatkan Kinerja dengan Ikigai*

Achmad Adhito
21 August 2019 | 10:49
rubrik: HC, Management
Meningkatkan Kinerja dengan Ikigai*

Ary Ginanjar (Foto: lsptrainer indonesia)

Selama saya mengisi berbagai training selama hampir 20 tahun, banyak orang yang bertanya pada saya, “Bagaimana Pak Ary bisa memiliki energi seperti itu di dalam training selama berhari-hari di New Chapther, ESQ Grand Event di Malaysia, dan Amazing You yang pesertanya lebih dari 11.000? Dengan segala kerendahan hati saya menjawab bahwa hal itu didorong oleh satu hal yang dalam istilah Jepang disebut: Ikigai.

Apa itu Ikigai? Istilah Ikigai berasal dari bahasa Jepang yang sering diartikan “alasan untuk hidup”. Terminologi tersebut belakangan ini mencuat ke berbagai belahan dunia setelah penulis Spanyol bernama Hector Gracia yang tinggal di Jepang mempublikasikan hasil penelitiannya dalam sebuah buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life.

Buku ini memaparkan cara pandang orang Jepang atas kehidupan sehingga mereka berumur panjang dan tidak pensiun namun dalam perspektif orang asing.
Dalam buku ini konsep Ikigai digambarkan dengan diagram venn dengan empat unsur yang saling beririsan antara: apa yang anda sukai, apa yang anda kuasai, apa yang dibayar dari anda, dan apa yang dibutuhkan dunia. Konsep ini mirip dengan apa yang disingkat dengan 4E: enjoy, ease, excellent, dan earn.

Ada juga buku Ikigai yang ditulis oleh orang Jepang yaitu Ken Mogi seorang ilmuwan bidang otak sekaligus peneliti senior di Sony Computer Science Laboratories. Ia juga merupakan profesor tamu di Tokyo Institute of Technology. Dalam buku “The Little Book of Ikigai”, Ken Mogi, memaparkan bahwa ikigai adalah tentang menemukan, menjelaskan, dan menghargai kesenangan-kesenangan hidup yang memiliki arti bagi seseorang.

Ikigai menurut saya mendekati suatu kondisi ‘mengalir’ atau flow. Istilah flow dikenalkan dalam psikologi positif yang menjelaskan keadaan seseorang ketika sedang sangat hanyut dan fokus dalam aktivitasnya sehingga tidak ada hal lain yang bisa mengganggu perhatiannya.

BACA JUGA:   Rantai Pasok Garam Perlu Dibenahi

Flow bisa dirasakan oleh seorang seniman saat membuat mahakarya yang sangat indah. Ia melakukan yang terbaik dan sangat menikmatinya, sehingga perjalanan waktu tidak disadarinya.

Lalu bagaimana membangun flow? Dalam perspektif ESQ saya merumuskannya meliputi beberapa unsur. Pertama, membawa hati (SQ), perasaan (EQ), dan pikiran (IQ) serta tindakan (PQ/Physical Quotient), menjadi satu. Ini kunci utamanya. Kedua, perhatian pada detail, ini namanya microflow.

Yang ketiga, lakukan dengan disiplin dan sungguh-sungguh (ganbarru). Contoh yang pernah saya lakukan adalah saat mendapatkan ilmu pedang samurai. Saya harus berlatih menebas tatami 5.000 kali hanya untuk mendapatkan kemahiran satu gerakan keshakiri (kerah biksu), gerakan pedang menyilang harus 45 derajat. Keempat, adalah fokus dan nikmati proses, sehingga perhatian tidak terpecah.

Kelima, tidak ada benda mati, semua benda hidup (kami’/jiwa). Menghargai semua benda dan merasakan ada sense of connectedness atau adanya keterhubungan.

Lima hal ini Anda miliki maka Anda akan mengalir. Itulah ikigai. Anda akan lupa dimensi ruang dan waktu. Menyatu dengan alam.

Contoh ketika orang Jepang membuat sushi, Sony, atau ilmu pedang Samurai, mereka akan mengalir atau flow. Contoh di masyarakat kita seperti orang punya hobi memancing ikan maka ia akan lupa waktu.

Bedanya, Ikigai bukan hanya hobi. Dia mencintai pekerjaan itu. Dia ahli di bidang itu. Dia dibayar di bidang itu. Dunia memerlukan itu.

Bayangkan seseorang yang memiliki hobi tertentu katakanlah memancing, lalu ia sangat jago dalam hal mancing sehingga dalam berbagai pertandingan ia menjadi juara. Karena ia dikenal sebagai orang jago mancing, maka ia diundang di stasiun televisi untuk memandu acara memancing, ia pun dibayar untuk melakukan hal itu. Lalu karena banyak yang ingin tahu cara memancing yang benar maka ia diminta untuk mengajar kursus memancing, misalnya.

BACA JUGA:   Inspirasi Strategi dan Kultur Perusahaan ala Salmon*

Bayangkan bagaimana dedikasi, kebahagiaan, dan kepuasan dia dalam melakukan semua itu. Itulah namanya Ikigai. Menyatunya hobi dengan bakat dan kekuatan kita, itu adalah namanya passion, lalu jika itu dilakukan untuk mendapatkan income maka akan menjadi profession, dan jika dunia atau masyarakat membutuhkannya maka itu akan menjadi mission.

Pertanyaannya, bisakah Ikigai dikembangkan dalam dunia kerja profesional dalam korporasi? Jawabannya tentu saja biasa.

Ketika seseorang bekerja digaji di bidang yang ia sukai dan ia ahli di bidang itu, lalu dunia atau masyarakat memerlukan jasa dan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut, maka ia akan menemukan ikigai-nya. Saya yakin jika seseorang sudah seperti itu maka akan lahir dua hal yaitu ‘unstoppable’ atau sulit dihentikan dan ‘on fire’ selalu bersemangat.

Perusahaan yang bisa mampu membangun SDM yang memiliki ikigai dalam pekerjaannya, maka akan menjadi perusahaan berkinerja tinggi. Orang-orang yang bekerja di dalamnya menemukan kebahagiaan dengan melakukan pekerjaannya.

Mereka memiliki kompetensi di bidangnya, memiliki energi berlimpah, dan mereka meyakini bahwa perusahaannya memberi manfaat bagi masyarakat dan dunia. Terlebih lagi jika dengan menguatkan unsur spiritualitas (SQ), dengan memaknai bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan, diniatkan sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Maka energi melakukan pekerjaan di kantor akan menjadi makin berlimpah karena bukan hanya kepentingan dunia namun juga akhirat.

Hal itulah yang saya rasakan di bidang training yang sudah saya geluti selama hampir 20 tahun. Saya fokus melakukan hal yang sama selama hampir 20 tahun menjadi trainer ESQ. Bukan hanya saya sendirian melakukan hal itu, namun saya ajak banyak orang untuk juga menjadi trainer, saya kader mereka, dan saya turunkan semua ilmu saya pada mereka. Saya memiliki visi Indonesia Emas membangun Indonesia yang berkarakter, dan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk mewujudkan visi mulia ini.

BACA JUGA:   Erick: Kita Perlu Super Hero Pasca-Pandemi

Orang yang paling bahagia, bukanlah orang yang paling banyak pencapaiannya. Orang yang paling bahagia adalah orangnya yang menghabiskan waktunya dalam flow-nya.

 

*Penulis: Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, adalah
Pakar Pembangunan Karakter, Corporate Culture Consultan, Founder ESQ 165

Kolom Ini Sebelumnya Dimuat di Majalah TopBusiness Edisi Juli 2019.

 

 

Tags: ary ginanjar
Previous Post

Pertamina Kuras Minyak Tahap Lanjut di 8 Proyek

Next Post

Program Hilirisasi Kelapa Sawit dan Mandatori Biodiesel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR