Jakarta, TopBusiness—Ekonom Bank DBS Indonesia, Masyita Crystallin, mengatakan bahwa pihaknya berharap di tahun ini Rp tetap stabil pada kisaran Rp 13.900-Rp 14.500 per USD. “Berbeda dengan tahun lalu, Rupiah sangat tangguh dalam menghadapi anjloknya peso Argentina dan penyusutan Yuan Cina sejak Mei,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima semalam oleh Majalah TopBusiness.
Dikatakannya, Indonesia berhasil memertahankan kredibilitas kebijakannya dengan baik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lain.
Terpilihnya kembali Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden RI, diikuti dengan peningkatan peringkat utang negara. Standard & Poor’s menaikkan peringkat Indonesia setingkat ke BBB.
Sebelumnya, pada bulan April, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik se-Asia-Pasifik Asia. Dia diharapkan dapat melanjutkan perannya selama masa jabatan kedua Presiden Jokowi.
“Defisit fiskal, pertama sejak 2012, kemungkinan telah menyusut menjadi di bawah 2% dari PDB pada tahun 2018,” Masyita menjelaskan.
Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas Rupiah melalui kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial akomodatif. BI memilih 18 Juli sebagai tanggal untuk menurunkan suku bunganya, kurang dari dua minggu sebelum penurunan suku bunga sebagai langkah antisipasi oleh Bank Sentral AS pada 31 Juli.
Penurunan yang di luar dugaan itu adalah keputusan tepat di tengah lanskap moneter global, yang lunak (dovish). Proyeksi BI untuk defisit transaksi berjalan sebesar 2,5%-3% dari PDB untuk 2019-2020 masuk akal.
“Dan mungkin mengejutkan, mengingat dampak positifnya. Tekanan pada perdagangan eksternal telah diimbangi oleh penyusutan defisit perdagangan sebesar 40% dan cadangan devisa tertinggi dalam 16 bulan terakhir,” ucap dia lagi.
(Adhito)
