Jakarta, TopBusiness – PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) secara resmi telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat memulai transaksi perdana pada hari ini, harga saham TFAS sempat menyentuh level tertinggi Rp306 per saham atau menguat 70 persen dari harga penawaran umum Rp180 per saham.
Namun, pergerakan harga saham dari emiten ke-35 di 2019 ini langsung berbalik menurun ke level Rp270 atau menguat 50 persen dengan frekuensi transaksi sebanyak 53 kali dan volume transaksi sebanyak 20.488 lot, sehingga nilai transaksi TFAS mencapai Rp601,95 juta.
Kenaikan tinggi itu membuat saham terkena auto rejection atas (ARA) dalam perdagangan perdananya tersebut.
Pada aksi korporasi ini, TFAS melepas saham ke publik sebanyak 416.666.500 lembar atau setara dengan 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, melalui mekanisme IPO tersebut TFAS mampu meraup dana dari pasar modal senilai Rp74,99 miliar.
Menurut Direktur Utama TFAS, Jody Hedrian, dengan adanya pelaksanaan IPO TFAS ini, maka kepemilikan PT MCash Strategi Tbk (MCAS) di Telefast Indonesia terdilusi menjadi 43,93 persen dari sebelumnya 58,58 persen.
“Sedangkan, kepemilikan PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) menjadi 5,69 persen dan PT Telefast Investama Indonesia menjadi 25,38 persen. Dan sisanya kepemilikan publik,” tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (17/9/2019).
Adapun selaku penjamin pelaksana emisi efek pada IPO TFAS ini adalah PT Kresna Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, sedangkan PT Sinarmas Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin emisi efek.
Jody menambahkan, sebesar 70 persen dari dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja, sebesar 25 persen untuk belanja modal dan sisanya akan dimanfaatkan untuk investasi terkait pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Penulis: Tomy
