
Jakarta, businessnews.id — Bank Mega akan meningkatkan porsi pembiayaan proyek infrastruktur; saat ini, porsinya masih di bawah 5 persen dari total penyaluran kredit. “Ke depan, sektor ini akan menjadi sumber pertumbuhan, untuk itu perlu persiapan infrastruktur dan sumber daya manusia,” kata Direktur Wholesale and Retail Banking Bank Mega, Madi Darmadi, di Jakarta hari ini (9/9/2014).
Tiga tahun terakhir, penyaluran kredit Bank Mega terbilang kecil sebab dengan aset mencapai Rp 61 triliun, penyaluran kredit hanya Rp 32 triliun. “Kalau kompetitor kami, dengan aset Rp 60 triliun, kreditnya sudah Rp 50-an triliun,” dia menjelaskan.
Hal itu terjadi karena selama ini Bank Mega hanya membidik segmen UKM (usaha kecil dan menengah), terutama kredit usaha kecil dan kartu kredit. Sejak tahun 2013, telah mengembangkan pembiayaan project financing seperti pembiayaan infrastruktur.
“Project financing ini ternyata ruangnya banyak untuk kita bisa kembangkan, namun kita juga takut kalau terlalu cepat. Maka, SDM-nya kita siapkan,” kata dia.
Dalam satu tahun belakangan ini, project finacing lebih banyak tertuju pada sektor manufacturing, hasil bumi, pembiayaan pembangkit listrik PLN.
“Untuk electricity, kita lihat masih banyak orang butuh listrik.”
Sementara ini, kata dia lagi, porsi project financing masih kecil. Dari total penyaluran kredit sepanjang semester I 2014 sebesar Rp 32 triliun, khusus untuk project financing tidak lebih dari 5 persennya. (Abdul Aziz)
Editor: Achmad Adhito