Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi akan melemah, kendati di sesi pembukaan pagi sudah bercokol perkasa. Disebut-sebut, sentiment keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) menjadi penopang utama mengalahkan sentiment penurunan suku bunga Bank Indonesia.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di level Rp14.048 per USD atau menguat 10,5 poin dari penutupan kemarin di tangga Rp14.058,5 per USD. Namun begitu, dalam satu jam pertama, rupiah kembali berbalik ke zona merah ke posisi Rp14.050 per USD atau melemah 0,06%.
Menurut Kepala Riset dan Analisis Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, sentiment dari sisi eksternal cukup berpengaruh. Sehingga pasar masih menantikan keputusan Uni Eropa (UE) terhadap permintaan penundaan Brexit tersebut. “Saat ini pasar masih khawatir bila tidak ada penundaan karena internal Inggris sendiri belum menyetujui kesepakatan itu (Brexit),” tutur dia di Jakarta, Jumat (25/10/2019).
Sementara dari sisi domestik, dengan adanya kebijakan Bank Indonesia yang kembali memangkas suku bunga acuannya rupiah akan menghadapi dampak dari pemangkasan kembali BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin, Kamis (24/10). “Makanya, pasar mungkin sudah bisa mengantisipasi pemangkasan bunga acuan BI sebesar 25 bps itu,” tegas Ariston.
Dengan kondisi tersebut, kata dia, diperkirakan pada hari ini rupiah akan berada di zona pelemahan di rentang Rp14.060-14.100 per USD.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis (24/10) sore, ditutup melemah seiring memudarnya efek cabinet Jokowi yang sempat membawa rupiah menguat tembus di bawah 14.000 rupiah per USD. Rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,19 persen dari sehari sebelumnya menjadi 14.059 rupiah per USD.
Tomy Asyari
