Jakarta, TopBusiness – PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) menggelar publik ekspos insidentil terkait koreksi pergerakan saham yang cukup tajam baru-baru ini. Pergerakan harga saham sendiri di luar campur tangan pihak manajemen dari emiten penyedia jasa informasi teknologi tersebut. Justru, hal itu lebih karena adanya sentimen negatif yang mempengaruhi pasar saja.
“Volatilitas transaksi saham itu (mengalami penurunan harga) itu akibat karena sentimen negatif saja. Padahal secara fundamental kondisi perusahaan cukup sehat,” tegas Direktur LUCK, Teddy Pohan, di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/11/2019).
Sebelumnya, pihak BEI sendiri sempat menghentikan perdagangan saham LUCK. Pasalnya, harga saham tersebut terpantau terkoreksi 31%, angka tersebut minus 2% dengan kapitalisasi pasar Rp 351 miliar. Dari angka tersebut dengan nilai transaksi Rp 4,73 miliar dan volume perdagangan 9,68 juta saham.
Atas pergerakan saham yang tidak biasa tersebut, Bursa menetapkan saham LUCK berada di dalam kategori unusual market activity (UMA). Sehingga, perdagangan sahamnya dihentikan sejak Senin (18/11/2019) lalu, dan saat acara paparan publik tersebut sudah kembali diperdagangkan.
Kondisi fundamental yang disebut Teddy itu telihat dari sisi kinerja perseroan yang hingga kuartal III-2019 masih cukup positif. Tercatat, kata dia, pendapatan dan laba bersih perseroan menaik.
Untuk pendapatan LUCK terkerek tipis 4,23% di angka Rp 78,55 miliar dari sebelumnya Rp 75,36 miliar secara year on year (yoy). Sementara laba bersih malah melonjak hingga 56,31% menjadi Rp 6,34 miliar dari Rp 4,05 miliar secara yoy.
Tahun ini, LUCK menargetkan pendapatan bisa terangkat di kisaran 20% hingga 30% di level Rp 118 miliar. Pihaknya optimistis, angka tersebut dapat terlampaui.
“Secara fundamental kami sangat positif sekali, perusahaan berkembang, bisnis tidak ada masalah, rencana kita juga berjalan dengan lancar. Bahkan kami merencanakan untuk mengakuisisi perusahaan lain,” paparnya namun belum mau membuka secara rinci.
Selain itu, aset LUCK juga meningkat 9,46% di angka Rp 162,22 miliar. Namun sayangnya, liabilitas juga melambung 36,80% ke angka Rp 29,03 miliar.
Adapun ekuitas masih positif menaik 4,89% menjadi Rp 133,19 miliar dari Rp 126,98 miliar dibandingkan akhir tahun 2018.
“Tahun depan yang pasti proyeksinya jauh lebih baik dari tahun ini, sebab kebutuhan solusi IT makin tinggi dari banyak industri guna melakukan efisiensi. Kami optimistis,” tandasnya.
Tomy Asyari
