Jakarta, TopBusiness – Gapensi tak kenal lelah sambangi 34 kampus di 34 propinsi seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan semangat belajar untuk mendapatkan sumber daya manusia berkualitas, sekaligus menutupi kekurangan jumlah tenaga kerja dalam rangka menciptakan program infrastruktur.
Salah satu tantangan dari program pembangunan infrastruktur adalah belum cukup tersediannya sumber daya manusia baik dari jumlah maupun kualitasnya. Sehingga bisa berimbas pada kualitas konstruksi yang dibangun, atau bahkan kadang masih harus mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri untuk mengerjakan proyek-proyek nasional kita. Selain itu meski sudah di tingkat akhir pun, khususnya mahasisawa teknik, sering kebingungan setelah nanti lulus mau ke mana, kerja apa dan ketrampilan apa saja yang diperlukan.
Bahkan sering dijumpai mahasiswa teknik setelah mereka lulus, justru banyak bekerja atau berwirausaha di luar bidang keteknikan, padahal investasi untuk bisa menghasilkan sarjana teknik memerlukan usaha dan biaya lebih tinggi. “Atas dasar itulah asosiasi Gapensi (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia) terpanggil untuk melakukan kegiatan “GAPENSI Goes to Campus seri keempat”, demikian keprihatinan Iskandar Z. Hartawi, ketua umum Badan Pengurus Pusat GapensiI saat ditemui di sela-selaacara Kampus Politeknik Ujung Padang, Makasar.
Acara ini adalah rangkaian road show dari rencana yang akan diselenggarakan di 34 kampus di 34 propinsi seluruh Indonesia. Dalam kegiatan yang dikemas dalam acara career workshop, mahasiswa diberikan gambaran tentang dunia kerja nantinya setelah meraka lulus agar mereka bisa menyiapkan masa depan jauh-jauh hari. Pilihan berkarir sangat tergantung minat masing-masing, misal team dari Pekerjaan Umum memberikan gambaran bagaimana menjadi regulator (ASN) sektor konstruksi.
Selain menjadi ASN (aparatur sipil negara) ternyata para mahasiswa juga banyak bercita-cita menjadi pengusaha bidang konstruksi baik itu menjadi kontraktor maupun konsultan. Diberikan juga gambaran jika ada yang memilih bekerja/berusaha di bidang penyediaan material atau peralatan konstruksi.
Bahkan diberikan gambaran oleh team dari industri konstruksi, jika mereka berminat mendirikan pabrik untuk produksi material-material konstruksi.
Acara berlangsung sangat meriah dan interaktif, keingintahuan mahasiswa Politeknik Ujung Pandang sangat besar, banyak pertanyaan-pertanyaan tentangsegala sesuatu tentang karir mereka setelah lulus.
“Ini pengetahuan yang luar biasa, sulitkami mendapatkan jika hanya berada di dalam kampus saja, pikiran serta wawasan kami kinimenjadi lebih terbuka,” kata salah satu mahasiswa peserta acara ini.
Perguruan Tinggi akanmendapatkan manfaat banyak sekali dengan acara-acara semacam ini. Mahasiswa mendapat banyak ilmu dari para pelaksana industri konstruksi di lapangan, karena pasti beda dengan apa yang sehari-hari mereka dapatkan dari pelajaran akademis di Kampus.
Dan yang jauh lebih penting, acara ini akan bisa menjadi sarana membangun interaksi antara perguruan tinggi dan dunia industri. Keduanya harus bersinergi, saling mengisi dan menguatkan perannya. Perguruan tinggi akan bisa memperbaiki kurikulum berdasarkan masukan dari industri agar bisa menghasilkan lulusan yang lebih siap bekerja, demikian jugadiharapkan industri bisa memanfaatkan temua-temuan dan fasilitas penelitian di perguruan tinggi untuk bisa dimanfaatkan guna menyelesaikan masalah-masalah kontruksi di lapangan.
Iskandar Z. Hartawi pun sepakat sudah menjadi komitmen Gapensi. “Kerjasama antara peguruan tinggi dan industri harus terus dilakukan, untuk itulah saat ini kami mau dan tak kenal lelah mendatangi banyak perguruan tunggi di seluruh Indonesia”.
Di akhir acara workshop tersebut, juga disepakati bahwa para mahasiswa setelah lulus diharapkan tetap mau bekerja di bidang keteknikan. Karena negara, masih kekurangan tenaga ahli teknik baik untuk jenjang sarjana apalagi untuk tenaga terampil dari pendidikan vokasi.
Salah satu nara sumber menyampaikan data perbandingan bahwa jumlah tenaga ahli teknik di Indonesia kurang lebih 3 ribuan/1 juta penduduk, sementara di Vietnam yang merupakan juga negara berkembang jumlah tenaga teknik mereka sudah mencapai jumlah 8 ribuan/1 juta penduduk.
“Kita tentu tidak mau kalah dengan negara Vietnam, sementara sumber daya alam kita yang memerlukan keahlian teknik untuk bisa mengolahnya jauh jauh lebih besar dari mereka. Karena jika tidak, justru nanti sumber daya alam kita akan lebih banyak diolah dan bahkan dikuasai oleh tenaga teknik asing, tentu bukan itu seperti itu maunya kita. Kita harus bisa kerjakan dan olah sendiri untuk kesejahteraan bersama”, tutup Iskandar.
Albarsyah
