Jakarta, TopBusiness—Untuk November 2019, penyaluran kredit naik sebesar 7% secara tahunan (yoy/year on year) bila dibandingkan November 2018. Hal ini menjadi salah satu penyebab naiknya jumlah uang beredar pada November 2019 itu.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Onny Widjanarko, mengatakan di Jakarta hari ini bahwa penyaluran kredit di November 2019 yang naik 7% itu, lebih tinggi daripada di Oktober 2019 yang naik 6,6% secara tahunan.
Selain penyaluran kredit, dia menambahkan, ada faktor lain penyebab naiknya uang beredar di November 2019.
Dijelaskannya, faktor utama kenaikan uang beredar itu adalah kenaikan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih, dan ekspansi operasi keuangan pemerintah.
Pertumbuhan aktiva luar negeri bersih tercatat meningkat, dari 2,0% (yoy) pada Oktober 2019 menjadi 4,6% di November 2019 (yoy).
Operasi keuangan pemerintah pada November 2019 juga tercatat ekspansi sebesar 2,4% (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar -10,0% (yoy).
Ekspansi tersebut sejalan dengan peningkatan tagihan sistem moneter kepada pemerintah pusat yang diikuti dengan perlambatan kewajiban terhadap pemerintah pusat.
Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat meningkat pada November 2019. Posisi M2 pada November 2019 tercatat Rp6.072,7 triliun, atau tumbuh 7,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 6,3% (yoy).
Akselerasi pertumbuhan M2 berasal dari peningkatan komponen uang beredar dalam arti sempit (M1). Uang beredar dalam arti sempit (M1) menunjukkan peningkatan, dari 6,6% (yoy) pada Oktober 2019 menjadi 10,5% (yoy) pada November 2019, bersumber dari peningkatan uang kartal dan giro Rupiah.
Sementara itu, komponen uang kuasi dan surat berharga selain saham tumbuh melambat.
Sumber Ilustrasi: Istimewa
