Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi bakal melemah. Hal ini karena terdampak oleh adanya ketegangan di Timur Tengah atau Timteng, terutama di Iran.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah di pasar sopt dibuka di posisi Rp13.933 per USD atau melemah 3 poin alias 0,02% dari penutupan sebelumnya di tangga Rp13.930 per USD. Bahkan dalam 1,5 jam kemudian, mata uang Merah Putih itu masih melemah ke posisi Rp13.965 per USD atau terdepresiasi 35,5 poin alias 0,25%.
Menurut analis pasar uang PT Garuda Berjangka, Ibrahim laju rupiah masih terancam terdepresiasi pada perdagangan pekan ini seiring dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Sehingga menjauhkan investor dari aset berisiko, termasuk rupiah.
“Dengan ketegangan itu, membuat harga minyak naik, sehingga biaya impor komoditas ini akan ikut melejit. Ketika semakin banyak devisa yang dibakar untuk impor minyak, rupiah akan menjadi korban,” tutur Ibrahim di Jakarta, Senin (6/1/2020).
Seperti diketahui, baru-baru ini hubungan AS-Iran kembali memanas setelah serangan rudal AS yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis. Kondisi tersebut telah membuat harga minyak naik cukup tajam, sehingga jelas menjadi sentimen negatif bagi rupiah.
Dia memproyeksi laju rupiah pada perdagangan Senin ini masih akan bergerak di teritori memerah di rentang level Rp13.895 per USD hingga Rp13.980 per USD.
Sementara pada Jumat (3/1/2020) lalu, rupiah berada di level Rp13.930 per USD, melemah 0,27% atau 37 poin. Adapun indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak stabil cenderung melemah di tangga 96,838.
Sumber Foto: Istimewa
