
Jakarta, businessnews.id — Bila Pemerintah RI dalam waktu dekat menaikkan harga bahan bakar minyak subsidi (BBM subsidi), tingkat keyakinan konsumen berpotensi kembali merosot. Bisa-bisa, kembali ke level saat terjadinya kenaikan serupa di tahun 2013.
“Saat kenaikan di tahun 2013 itu, tingkat keyakinan konsumen di kuartal III turun ke 120 dari sebelumnya 124 di kuartal II,” kata Direktur Pelaksana Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, di Jakarta (11/11/2014).
Agus mengatakan, di kuartal III tahun 2014 ini, tingkat kepercayaan tersebut sebenarnya sudah di titik yang tinggi lagi.
Dari sejumlah negara yang disurvei Nielsen, tingkat kepercayaan konsumen Indonesia bahkan di peringkat kedua setelah India.
“Konsumen kita saat ini sangat confident. Tapi apakah setelah kenaikan BBM dalam waktu dekat ini kepercayaan itu masih tinggi, ya perlu kita cermati,” kata Agus.
Bila kemerosotan terjadi, biasanya memerlukan waktu untuk kembali naik.
“Berdasarkan pengalaman kami, perlu waktu lima sampai enam bulan untuk kembali ke titik tinggi,” kata mantan eksekutif di Indosat itu.
Satu hal yang menarik, di kuartal II tahun 2014, kenaikan BBM bukan menjadi isu penting bagi konsumen Indonesia.
Di kuartal II itu, yang lebih diperhatikan adalah isu ekonomi dan stabilitas politik terkait Pemilihan Umum 2014.
Di kuartal III, lantas isu kenaikan BBM menjadi hal utama.
“Jadi, saat Pemilihan Presiden belum selesai, konsumen meyakini bahwa pemerintahan baru akan menaikkan harga BBM subsidi,” ucap Agus lagi.
Penulis/Peliput: Achmad Adhito
Editor: Achmad Adhito