Jakarta, TopBusiness – Holding BUMN di industri farmasi diharapkan dapat memperkuat riset & development (R&D), serta membangun jalur distribusi yang terkoneksi dengan seluruh sistem, baik itu rumah sakit dan pelayanan kesehatan publik serta juga jaringan apotek seluruh indonesia. Selain, akan menerapkan teknologi digital dalam era revolusi industri 4.0, sehingga semakin efektif dan efisien.
Holding BUMN Farmasi akan hadir untuk negeri guna turut serta menciptapkan bangsa Indonesia yang sehat dengan produk–produk bioteknologi, farmasi dan healthcare kelas dunia yang berdaya saing global.
Meski begitu, tentu harapan masyarakat akan harga obat murah dan terjangkau akan menjadi tantangan, karena ketergantungan bahan baku impor masih menjadi kendala agar bisa menghasilkan produk farmasi yang murah.
Setelah ditetapkan menjadi induk holding BUMN farmasi dengan anggota seperti, PT Kimia Farma (Persero) Tbk dan PT Indo Farma (Persero) Tbk, maka PT Bio Farma (Persero) Tbk siap untuk menjalankan perannya sebagai induk, yang antara lain, mendorong anggota untuk mandiri, baik dalam hal penelitian maupun produksi produk-produk, mendorong untuk menerapkan produksi dan QualityManagement System, untuk mendapatkan Pre-Qualification WHO(P-QWHO). Dengan P- QWHO, diharapkan Kimia Farma dan Indo Farma juga dapat menembus pasar global, dan membantu anggota holding BUMN Farmasi untuk menjadi global player. Produk Bio Farma sudah digunakan di lebih dari 140 negara dunia dan menembus pasar di negara–negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).
Penetapan Bio Farma sebagai holding BUMN farmasi, ditandai pasca-keluarnya surat persetujuan dari Menteri BUMN melalui RUPS yang menyetujui pengalihan seluruh saham seri B milik pemerintah pada Kimia Farma maupun Indo Farma ke Bio Farma pada akhir Januari2020. Tujuan dari holding BUMN farmasi ini, selain untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, juga untuk meningkatkan ketersediaan produk, dengan menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan produk farmasi untuk mendukung ekosistem farmasi di masa yang akan datang.
Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan dalam acara Press Conference dengan tema Holding BUMN Farmasi Memperkuat Kemandirian Industri Farmasi Nasional di Jakarta 5 Februari 2020, yang turut dihadiri Direktur Utama Kimia Farma, Verdi Budidarmo dan Direktur Utama Indofarma, Arief Pramuhanto.
Saat ini, industri farmasi di Indonesia, masih dihadapkan pada beberapa tantangan yang cukup signifikan, dimana Indonesia masih bergantung pada impor khususnya bahan baku obat atau Active Pharmaceutical Ingredients (API).
Kemudian tantangan lainnya adalah akses untuk mendapatkan produk farmasi yang cenderung sulit karena keterbatasan jalur distribusi yang membuat harga obat relatif mahal, dan tantangan berikutnya inovasi–inovasiter baru yang dapat melahirkan produk farmasi yang dibutuhkan masyarakat.
“Dengan bergabungnya Bio Farma, Kimia Farma dan Indo Farma dalam suatu Holding BUMN Farmasi, diharapkan masing-masing dari perusahaan ini, akan memberikan kontribusi pada ketahanan farmasi nasional, sehingga harga produk farmasi bisa lebih murah. Karena adanya penurunan harga API dan masyarakat akan lebih mudah mendapatkan produk farmasi dengan jaringan distribusi yang luas dan merata, bahkan hingga ke mancanegara dan yang terpenting adalah inovasi–inovasi dapat melahirkan produk baru yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia”, ujar Honesti.
Menurutnya, dari sisi inovasi Bio Farma sebagai induk holding akan mendorong Kimia Farma dan Indo Farma, untuk dapat melakukan penetrasi pasar yang lebih luas lagi dengan standar produk yang sudah terkualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Setelah holding ini terbentuk, selain sebagai induk Holding Company, Bio Farma akan tetap fokus pada core businiss utama saat ini, yaitu sebagai produsen vaksin dan antisera, dengan adanya manajemen tersendiri sebagai operating holding.
Verdi Budidarmo mengatakan, bahwa dengan holding BUMN akan mendukung hilirisasi produk Kimia Farma, Bio Farma dan Indo Farma, mengingat saat ini Kimia Farma memiliki rantai bisnis dari hulu ke hilir yakni retail farmasi, distribusi, laboratorium diagnostik, dan klinik kesehatan.
Arief menambahkan, Indofarma berkomitmen mendukung holding BUMN farmasi untuk bersama-sama mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri dan alat kesehatan dalam negeri.
Untuk itu, sesuai blue print dari holding BUMN Farmasi, selain tetap mengembangkan beberapa produk farma, Indo Farma juga akan menitikfokuskan pada pengembangan produk natural extract dan medical equipment (alat kesehatan). Hal itu selaras dengan Indo Farma turn around strategy, yang telah ditetapkan manajemen sebagai pedoman penentuan arah pengembangan perusahaan untuk secara berkelanjutan menjadi Profitable Healthcare Company.
