Jakarta, TopBusiness – Kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) sepanjang 2019 cukup berat, kendati masih membukukan laba bersih sebesar Rp209 miliar.
Hal itu juga ditandai dengan raihan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) perseroan yang terbilang masih tinggi di angka 4,78% hingga akhir 2019 lalu. Atau naik cukup besar dibanding periode Desember 2018 yang hanya 2,01%.
“Penyebab kenaikan NPL itu karena disokong oleh NPL tinggi di kredit konstruksi dan komersial yang mencapai 18%. Sementara di segmen KPR yang menjadi core business perseroan masih terkendali,” ujar Direktur Utama BTN, Pahala N. Mansury di Jakarta, Senin (17/2/2020).
Untuk NPL Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dari total Rp111,13 triliun atau naik 13,2% dari tahun sebelumnya di posisi Rp98,17 triliun, ternyata NPL-nya 1%. Sementara untuk KPR non subsidi dari Rp80,64 triliun, NPL-nya sebesar 3,7%.
“Kita lihat kredit KPR itu mencapai Rp191 triliun, baik subsidi atau non subsidi, NPL-nya masih terkendali. Untuk subsidi di bawah 1% dan non subsidi di angka 3,7%,” terang dia.
Ke depan, perseroan akan terus memperbaiki rasio NPL ini mulai dari kredit yang baru diberikan lebih hati-hati. Makanya, perseroan menargetkan regional personal center (RPC) untuk memitigasi risiko menjadi lebih terkendali.
“Untuk itu target kami di 2020 ini NPL bisa ditekan di kisaran 3% hingga 3,5% (gross) dan 1,5% sampai 1,7% netnya. Dan mungkin di triwulan 1 ini NPL belum bisa turun drastis. Dan kami berharap di akhir tahun nanti bisa ditekan me jadi 3,1%,” ujar Pahala.
Semula, perseroan sendiri meyakini di kuartal I-2020 ini NPL bisa mulai ditekan, namun ternyata ada perkembagan lain seperti virus Corona yang membuat target tersebut diundur lagi.
“Adanya virus Corona ini akan menghambat penekanan laju NPL, terutama di konsumer. Makanya, kemungkinan perubahannya baru akan signifikan di triwulan II-2020 ini,” tegas dia.
