Munculnya wabah Virus Korona sejak Desember 2019 telah menimbulkan kekhawatiran bagi dunia. Virus yang bermula dari kota Wuhan ini sudah memakan sekitar 1.600 korban jiwa. Lebih lanjut, terdapat kurang lebih 68.000 orang terinfeksi dan angka tersebut masih dapat terus bertambah. Hal ini diperburuk dengan kecenderungan Tiongkok yang dianggap beberapa pihak berusaha menutupi kasus ini. Alhasil, timbul ketakutan bahwa wabah ini akan terus berlanjut dan berpotensi meningkatkan jumlah kematian.
Penulis: Wignyo Parasian
Analis Ekonomi dan Keuangan Internasional, Badan Kebijakan Fiskal
Sentimen positif mulai mencuat ketika sejumlah lembaga dan ekonom internasional beranggapan dampak Korona cenderung ringan dan temporer. Virus dengan nama Covid-19 ini diprediksi hanya memperlambat perekonomian Tiongkok untuk beberapa waktu saja. Begitu pula dengan perekonomian Amerika Serikat sebagai negara besar lainnya dimana dampaknya diperkirakan tidak substansial. Namun, pemulihan ini diasumsikan baru akan terjadi pada semester kedua tahun 2020.
Tiongkok pantas untuk merasa khawatir dengan masifnya penyebaran wabah Korona. Pasalnya Negeri Tirai Bambu ini diestimasikan mampu tumbuh lebih baik di tahun 2020. Hal ini didorong oleh terjalinnya kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat (AS). Dua tahun konflik perang dagang telah memberikan dampak bagi perekonomian global. IMF mengestimasikan pertumbuhan ekonomi dan volume perdagangan akan turun masing-masing 0,7 dan 2,7 persen. Sehingga, kesepakatan ini sebenarnya memberikan angin segar bagi Tiongkok maupun perekonomian global.
Negosiasi yang intens antara AS dan Tiongkok telah menghasilkan beberapa poin kesepakatan. Salah satu poinnya yakni Tiongkok setuju untuk membeli barang dan jasa dari AS sebesar 200 miliar Dolar AS. Adapun periode pembelian ini akan terjadi dalam rentang waktu dua tahun ke depan. Sebagai gantinya, Negara yang dipimpin oleh Donald Trump ini akan mengurangi tarif dari 15 menjadi 7,5 persen. Apabila dikalkulasi, penurunan tarif ini akan berdampak sekitar 120 miliar Dolar AS terhadap produk Tiongkok. Dapat disimpulkan bahwa kesepakatan ini memberikan keuntungan bagi perdagangan antar kedua negara.
Para ekonom menyambut positif hasil kesepakatan ini karena diperkirakan memberi keuntungan bagi Tiongkok. Pertama, Tiongkok akan lebih inovatif yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Dengan adanya kewajiban untuk membeli barang AS, Tiongkok pun kemungkinan besar akan mengurangi jumlah perusahaan asing dan lebih mengandalkan kekuatan domestiknya. Kesepakatan ini juga dapat mendorong Pemerintah untuk mengimplementasikan kebijakan fiskal ekspansif, misalnya dengan penerapan kebijakan pajak lebih rendah. Dampak lainnya yakni membantu meningkatkan sentimen pasar agar berinvestasi di Tiongkok. Kenaikan pertumbuhan investasi diharapkan dapat memacu kembali pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sejak tahun 2010 mengalami perlambatan ekonomi secara kontinu. Oleh karena itu, merupakan sebuah kewajaran para ekonom menyambut kesepakatan ini dengan begitu antusias.
Sebagai salah satu mitra dagang Tiongkok, Indonesia juga berpotensi untuk menikmati dampak positif tersebut. Share sebesar 15,1 persen terhadap total ekspor menunjukkan betapa besarnya pasar Tiongkok bagi Indonesia. Di samping itu, banyak bahan baku serta barang setengah jadi yang juga diimpor dari Tiongkok. Melihat kemungkinan tumbuhnya ekonomi Tiongkok, permintaan dari negara tersebut berpotensi mengalami lonjakan. Otomatis ini akan memberikan dampak pada kinerja ekspor maupun impor Indonesia. Sehingga, potensi ini perlu dimanfaatkan oleh Indonesia, terutama dalam memperbaiki kinerja perdagangannya.

Namun, Korona membuyarkan semua potensi tersebut dan Indonesia justru ikut terkena dampak virus ini. Meskipun tidak sekronis Singapura, Thailand, dan Hongkong, tetapi kinerja perdagangan Indonesia ikut terimbas. Data terakhir menunjukkan neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 0,86 miliar Dolar AS pada Januari 2020. Secara spesifik, ekspor dan impor turun sebesar 7,16 dan 1,60 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Artinya, dalam waktu sebulan Korona sudah mampu memberikan dampak cukup besar bagi Indonesia.
Gangguan pada ekonomi Tiongkok akibat Korona tentu memberikan tantangan tambahan bagi Indonesia dalam menaikkan kapasitas perdagangannya. Sektor pariwisata jelas akan menerima dampak paling besar apabila penyebaran Korona tidak dapat ditangkal. Padahal kontribusi sektor pariwisata terhadap ekspor dan impor cukup tinggi, baik barang maupun jasa. Terlebih, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia banyak berasal dari Tiongkok. Pada tahun 2019, tercatat 154 ribu kunjungan wisatawan dari Tiongkok, atau tumbuh 7,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di samping itu, Indonesia masih memiliki tingkat ketergantungan cukup tinggi terhadap komoditas barang. Data dari Trade Map International Trade Centre menunjukkan bahwa kontribusi sektor barang mencapai sekitar 83 persen. Nilai tambah komoditasnya juga cenderung masih rendah, sehingga dampaknya terhadap ekspor pun tidak terlalu besar. Hal ini diperparah dengan penurunan harga komoditas global pada 2019 yang membuat nilai ekspor menjadi turun. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa dua komoditas terbesar yang diekspor oleh Indonesia, yakni batubara dan minyak sawit, justru mengalami penurunan harga cukup dalam. Alhasil, rintangan yang dihadapi perekonomian Tiongkok dapat menurunkan permintaan akan barang Indonesia.
Pemerintah perlu mencari cara untuk mengantisipasi hambatan tersebut, terutama dengan kondisi kinerja perdagangan yang kurang baik. Terdapat beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan Pemerintah guna mengakselerasi kembali ekspor dalam jangka waktu dekat. Pertama, diperlukan kebijakan cepat untuk mendorong kembali sektor pariwisata Indonesia. Tentu Pemerintah untuk sementara tidak dapat mengandalkan Tiongkok sebagai sumber bagi pemasukan ekonomi. Sehingga, fleksibilitas Pemerintah akan berperan penting untuk menarik wisatawan mancanegara tetap ingin berkunjung ke Indonesia. Contohnya dengan pemberlakuan potongan untuk tiket pesawat ataupun tempat menginap. Logikanya, dengan tidak ada insentif, wisatawan mancanegara akan enggan untuk datang, terutama dengan status siaga Korona di berbagai negara. Kebijakan ini juga bermanfaat untuk meningkatkan belanja masyarakat untuk kegiatan pariwisata. Dengan kontribusi konsumsi domestik terhadap perekonomian sekitar 60 persen, pengeluaran individu perlu dijaga agar pertumbuhan dapat stabil di tingkat 5 persen.
Untuk mengatasi ketergantungan terhadap komoditas barang, Pemerintah dapat mencoba untuk meningkatkan daya saing ekspor dalam jangka pendek. Dengan harga komoditas global yang sedang mengalami penurunan, perlu untuk meningkatkan efisiensi akan produksi komoditas. Setelah efisiensi tercapai, perusahaan dapat memulai usaha untuk meningkatkan kualitas dari komoditas yang akan diekspor. Misalnya dengan pemberlakuan diferensiasi produk melalui riset dan pengembangan agar terdapat nilai tambah dibandingkan produk pesaing. Kemudian, perlu dilakukan intensifikasi perdagangan dengan cara membuka pasar baru. Koordinasi antara Pemerintah dan pihak eksportir sangat diperlukan terkait preferensi dagang dengan pihak potensial. Ini membuat pasar yang dipilih menjadi lebih efektif dan tidak terkonsentrasi pada satu negara. Sehingga, apabila terdapat guncangan ekonomi pada negara mitra dagang, Indonesia dapat mencari negara tujuan lain untuk melakukan ekspor.
Virus Korona telah memberikan tekanan tambahan, baik bagi Tiongkok, Indonesia, maupun perekonomian global. Meskipun kesepakatan dagang telah tercapai, dampak wabah tersebut justru menghilangkan potensi ekonomi untuk tumbuh. Walaupun terlalu cepat untuk mengklaim seberapa besar kerugiannya, dunia sudah cukup khawatir dengan keberadaan Covid-19. Tidak ada yang tahu hingga kapan awan kelabu Korona ini akan berlalu dari muka bumi ini.
*tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili institusi dimana penulis bekerja.
