Jakarta, TopBusiness – Meski berstatus bank daerah, tapi dari sisi keandalan infrastruktur sistem informasi dan teknologi (IT) PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau Bank BJB justru jagonya. Pasalnya kini, kualitas sistem digitalnya sudah terlihat dari kualitas produknya yang bisa disebut menyamai bahkan mengungguli sistem IT di bank-bank besar.
Perubahan di sistem IT yang makin kuat sejatinya relatif baru yang dilakukan Bank BJB. Terhitung dalam satu tahun belakangan atau sejak sosok Yuddy Renaldi masuk sebagai Dirketur Utama BJBR. Bahkan kini, pemegang saham juga mempercayakan jabatan di bidang IT diisi oleh seorang direktur. Dan salah satu produk digital perseroan adalah bjb DIGI yang kini sangat bermanfaat di kala pandemic wabah virus corona (Covid-19) itu.
Hal ini seperti dituturkan oleh Dirut BJBR, Yuddy Renaldi dalam acara penjurian Top BUMD Awards 2020 yang dilakukan secara virtual digelar oleh Majalah TopBusiness, di Jakarta, Selasa (7/4/2020).
“Masalah digital banking di BJB dalams etahun ini bisa disebut sebagai hal yang paling membanggakan. Saat awal saya masuk [di awal 2019] saya sempat dihadapkan kepada kondisi infrastruktur IT yang mengalami downtime lebih dari dua hari. Bahkan saat itu semua kepala daerah (di Jabar) sewot. Tapi Alhamdulillah, akhirnya sangat membanggakan kami berhasil memperbaiki IT menjadi lebih baik seperti saat ini,” cerita Yuddy.
Bahkan, kata dia, kualitas digital banking milik perseroan diakui oleh banyak nasabah, kemampuannya seperti gabungan IT dari bank-bank besar, lewat bjb DIGI. Dan kini semua layanan Bank BJB sudah digital dan berbasis internet, termasuk layanan di pasar-pasar.
“Kami sudah launching di akhir 2019 lalu dan diviralkan oleh semua kepala daerah. Dan kini sangat membantu dalam interaksi yang tak harus tatap muka melalui e-banking. Ini justru perangkat penyelamat kita. Kalau tidak ada ini, mungkin mereka bisa berbondong-bondong ke kantor,” kata dia.
Tak hanya soal keandalan IT yang sanggat membanggakan, pihaknya juga kian mempercepat pelayanan pengajuan kredit, namun tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko. Yuddy pun memberi contoh terkait pembiayaan ke sektor korporasi. Semula, untuk pengajuan ini prosesnya selama 120 hari, tapi kini lebih singkat menjadi hanya 25 hari saja.
Dengan strategi itu pun, perseroan bisa menggenjot kredit sebagai bentuk kontribusi perseroan terhadap pembangunan daerah dan nasional. Hingga akhir 2019 lalu, total kredit yang bisa dikucurkan mencapai Rp87,28 triliun. Namun begitu pereseroan tetap bisa menjaga likuiditas perseroan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang bisa dikumpulkan mencapai Rp89,35 triliun. Sehingga rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 97,81%.
Kinerja positif lainnya pun tertuang dalam torehan asset perseroan yang terus membengkak mencapai Rp123,53 triliun dengan total ekuitas sebanyak Rp12,04 triliun. “Sementara laba bersih hingga akhir tahun lalu atau laba setelah pajak sebanyak Rp1,56 triliun. Dan rasio kecukupan modal (CAR) di angka 17,71%, sedang rasio kredit macet (NPL) bisa ditekan ke angka 1,58%, berarti kredit kami masih prudent,” jelas Yuddy.
Dari komposisi kredit tersebut, sebanyak 25% untuk kredit produktif dan 75% masih kredit konsumtif. Dan perseroan berhasil mengucurkan kredit ke Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar 11,70%. “Keberpihakan ke UMKM ini semakin jelas dengan adanya kredit seperti bjb Mesra yang tanpa bunga dan agunan. Juga juga bjb KUR yang tahun ini akan melonjak signifkan menjadi Rp1 triliun,” tutup Yuddy.
Foto: istimewa
