Jakarta, TopBusiness—Mengingat permintaan konsumen akan terpukul seperti yang telah diperkirakan, kemungkinan penundaan belanja/pengeluaran, dan neraca perdagangan yang melemah, PDB Indonesia tahun 2020 diperkirakan tumbuh 2,5%. Ini direvisi dari sebelumnya yang di angka 4,4%.
Hal itu dijelaskan dalam riset terbaru DBS, yang diterima kemarin malam oleh wartawan Majalah TopBusiness.
Dijelaskan, ekonomi Indonesia relatif tidak dirugikan oleh Covid-19 pada awal tahun ini, akan tetapi tingkat infeksi mengalami peningkatan dalam dua minggu terakhir. Selain pembatasan kedatangan dari luar negeri, pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara lokal, namun memilih tidak menetapkan karantina secara nasional.
Hal ini dilakukan dengan memerhitungkan pelaksanaan ibadah Puasa sebulan penuh dan Idul Fitri, saat mana biasanya banyak pekerja migran dari luar Indonesia kembali ke kampung halaman mereka, serta pergerakan domestik antarprovinsi. Dalam situasi ini, migrasi dapat menimbulkan risiko penyebaran infeksi ke seluruh negeri sehingga para pemimpin daerah memperketat pemeriksaan.
Dalam keadaan sekarang, PSBB kemungkinan akan berdampak luas pada sektor manufaktur dan jasa, termasuk sarana komoditas konsumen akhir, restoran, eceran, pabrik produksi, konstruksi, dan lain-lain karena keputusan menjaga jarak sosial dan kendala logistik.
Riset tersebut menjabarkan bahwa respons moneter dan fiskal Indonesia, tetap kuat. Pelonggaran moneter lebih lanjut mungkin terjadi, tetapi bukan keputusan mudah. Suku bunga rendah dibutuhkan untuk mendukung kegiatan ekonomi.
“Akan tetapi, itu akan menyebabkan penyempitan selisih lebih lanjut dengan imbal hasil surat berharga pemerintah AS, yang dapat menghalangi portofolio investor asing,” papar Taimur Baig, Kepala Ekonom G3 dan Asia DBS.
Sementara itu, dia menambahkan, pemerintah Indonesia menaikkan nilai penawaran obligasi dalam mata uang asing menjadi USD 4,3 miliar. Itu merupakan sebuah penawaran tertinggi hingga saat ini, untuk mendanai bantuan dalam rangka penanganan virus korona.
Keterangan Foto: Perkantoran di Jakarta yang Sepi Saat Masa Wabah Covid-19
Pewarta Foto: Rendy MR/TopBusiness
