Jakarta, TopBusiness – Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Buana Mitra Perwira merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Purbalingga. Sebagai bank milik pemerintah daerah yang menyediakan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh akses keuangan secara syariah, BPRS Buana Mitra Perwira juga merupakan bank daerah pertama yang memiliki halal center hasil kerja sama langsung dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama.
Demikian pernyataan Sri Aprilliawati Mahtukhah selaku Direktur Utama BPRS Buana Mitra Perwira dalam acara penjurian TOP BUMD Awards 2020 yang berlangsung secara virtual pada Rabu (8/4/2020) lalu.
“Kerjasama dengan BPJPH menjadikan kami sebagai sebagai bank pertama di Purbalingga yang memiliki halal center. Melalui program tersebut, kami membebrikan edukasi-edukasi bagaiman produk yang halal serta bagaimana membantu masyrakat untuk mendapatkan sertifikat halal,” ungkapnya.
Masih menurut Sri, Kerjasama dengan BPJPH bagian dari strategi meningkatkan nasabah yang sudah menjadi road map manajemen. “Dengan pola ini, kami bisa memiliki data-data UMKM sehingga kami bisa terkoneksi langsung untuk menawarkan produk-produk perusahaan,” tuturnya.
Selain strategi tersebut, lanjut Sri, ada beberapa strategi utama dalam meningkatkan nasabah, yakni Gerebek Pasar dan Gerebek Instansi. Gerebek pasar dilakukan di beberapa pasar di Kab Purbalingga dengan melakukan penjelasan ke penjual langsung (one to one). Demikian pula dengan Gerebek Instansi, yakni mendatangi salah satu instansi di Kab Purbalingga dengan melakukan penawaran-penawaran melalui table to table.
“Dari pola ini, hasilnya adalah para pedagang bergabung dengan kami. Begitupun dengan beberapa instansi, dari meja ke meja melakukan penawaran, terbukti menambah mitra yang bergabung. Semua para mitra tersebut dilayanai dengan real time,” imbuhnya.
Untuk diketahui, capaian prestasi BPRS Buana Mitra Perwira pada 2019 mengalami kenaikan. Hal ini dapat terlihat dari perkembangan lima tahunan. Pada 2014 jumlah asset sebesar Rp 71 milyar dan naik menjadi Rp 166 miliar di akhir 2019 (tumbuh 133 persen). Sedangkan dana pihak ketiga pada akhir 2014 Rp 60 miliar, dan akhir 2019 sebesar Rp 146 miliar (tumbuh 143 persen). Pembiayaan pada 2014 sebesar Rp 47 miliar, akhir 2019 sebesar Rp 127 miliar (tumbuh 170 persen). Hal ini juga selaras dengan pertumbuhan laba semakin positif, dibandingkan 2014 sebesar Rp 1,4 miliar, pada 2019 Rp 3 miliar.
Penulis: Abdullah Suntani
