TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ramadhan, Mayoritas Kota Justru Terjadi Deflasi

Nurdian Akhmad
4 May 2020 | 17:10
rubrik: Ekonomi
FOTO – Harga Pangan Masih Normal di Puncak Kemarau

Foto: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness  – Momentum Ramadhan yang biasanya memicu terjadinya inflasi, di banyak kota di Indonesia pada April 2020 justru terjadi deflasi. Dari 90 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), 39 kota mengalami inflasi dan 51 kota mengalami deflasi.

Secara nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada April 2020 terjadi inflasi sebesar 0,08 persen dengan IHK sebesar 104,80.

Tingkat inflasi tahun kalender Januari sampai April 2020 sebesar 0,84 persen dan tingkat inflasi secara tahunan (year on year) April 2020 terhadap April 2019 sebesar 2,67 persen.

“Inflasi tertinggi terjadi di Baubau sebesar 0,88 persen dengan IHK sebesar 103,16 dan terendah terjadi di Cirebon, Depok, dan Balikpapan masing-masing sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing sebesar 102,74, 105,84, dan 103,27,” ujar Kepala BPS Suhariyanto saat teleconference di Jakarta, Senin (4/5/2020).

Suhariyanto menjelaskan, deflasi tertinggi terjadi di Pangkalpinang sebesar 0,92 persen dengan IHK sebesar 102,31 dan terendah terjadi di Bogor dan Semarang masing-masing sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing sebesar 105,93 dan 104,86.

“Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” katanya.

Adapun kenaikan tersebut yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,09 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 0,04 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,09 persen.

Kemudian perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,09 persen, kesehatan sebesar 0,23 persen.

Selain itu rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,18 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,20 persen.

“Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu kelompok transportasi sebesar 0,42 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,34 persen. Sementara, kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan yaitu kelompok pendidikan,” kata Suhariyanto.

BACA JUGA:   Harga Turun, Februari Diprediksi Deflasi
Tags: BPRSdeflasiinflasiramadhan dan lebaran
Previous Post

FOTO – Omzet Pedagang Onderdil Mobil Turun

Next Post

IHSG Tertahan di Zona Merah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR