Jakarta, TopBusiness – Meski laju inflasi pada Mei 2020 melambat, Bank Indonesia (BI) menegaskan tetap akan konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam sasarannya sebesar tiga persen plus minus satu persen pada 2020,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (3/6/2020).
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2020 tetap rendah pada tingkat 0,07 persen secara month to month (mtm), sedikit turun dibandingkan dengan inflasi April 2020 sebesar 0,08 persen (mtm).
Perkembangan inflasi Mei 2020 juga lebih rendah dibandingkan dengan pola inflasi pada periode Ramadan dan Idulfitri yang dalam lima tahun terakhir rata-rata tercatat 0,69 persen (mtm).
Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan inflasi Mei 2020 tercatat sebesar 2,19 persen (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,67 persen (yoy).
Menurut komponennya, rendahnya inflasi Mei 2020 dipengaruhi inflasi inti yang melambat yakni dari 0,17 persen (mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,06 persen (mtm).
Di sisi kelompok barang, perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh deflasi komoditas bawang bombay dan gula pasir, serta meredanya inflasi emas perhiasan. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,65 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan inflasi April 2020 sebesar 2,85 persen (yoy).
“Inflasi inti yang melambat tidak terlepas dari pengaruh melambatnya permintaan akibat pandemi covid-19, konsistensinya kebijakan Bank Indonesia mengarahkan ekspektasi inflasi, rendahnya harga komoditas global, dan terjaganya stabiitas nilai tukar,” kata Onny.
Sementara kelompok volatile food juga kembali mencatat deflasi sebesar 0,50 persen (mtm), lebih dalam dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,09 persen (mtm).
Perkembangan ini dipengaruhi koreksi harga di beberapa komoditas seperti aneka cabai, telur ayam ras, dan bawang putih sejalan melambatnya permintaan, memadainya pasokan, dan terjaganya distribusi barang.
Sementara itu, inflasi komoditas bawang merah masih cukup tinggi didorong oleh pasokan panen bawang merah yang belum optimal. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food pada Mei 2020 tercatat 2,52 persen (yoy), jauh lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 5,04 persen (yoy).
Adapun kelompok administered prices mencatat inflasi 0,67 persen (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,14 persen (mtm). Inflasi ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) pada lima tahun terakhir sebesar 0,88 persen (mtm).
“Perkembangan inflasi kelompok administered prices Mei 2020 bersumber dari peningkatan tarif angkutan udara, tarif kereta api, rokok kretek filter, dan Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT). Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 0,28 persen (yoy), lebih tinggi dari realisasi perkembangan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,09 persen (yoy),” pungkas Onny.
