Jakarta, TopBusines – Sejak 2016, manajemen PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) alias TWC sudah menerapkan governance, risk management dan compliance (GRC) dalam pengelolaan perusahaan. Hasilnya, kinerja bisnis BUMN bidang pariwisata ini meningkat signifikan.
Berdasarkan data perseroan, kinerja keuangan TWC dalam tiga tahun terakhir dari 2017 hingga 2019 mencatat kenaikan baik dari sisi aset, pendapatan dan laba bersih. Jumlah aset PT TWC bertambah dari Rp 537,488 miliar pada 2017 menjadi Rp 648,377 miliar pada 2018 dan Rp 811,576 miliar pada 2019.
Direktur Utama PT TWC Edy Setiono menjelaskan, peningkatan jumlah aset selama 2019 sebagian besar berasal dari naiknya laba perusahaan disertai meningkatnya investasi aset tetap berupa tanah dan bangunan.
“Aset perseroan juga meningkat karena ada piutang kepada pihak ketiga yakni HIN, BHIVA dan PFN. Selain itu, ada penambahan penyertaan modal di PT Sinergi Colomadu,” ujar Edy dalam penjurian TOP GRC Awards 2020 yang dilakukan melalui teleconference, Jumat (19/6/2020).
Dari sisi laba, menurut Edy Setiono, perseroan meraih kenaikan laba dari Rp 107,148 miliar pada 2017, menjadi Rp 127,726 miliar pada 2018 dan Rp 158,737 miliar. Kenaikan laba pada 2019 dikarenakan adanya peningkatan pendapatan, disamping hal lain yaitu kemampuan melakukan efisiensi biaya pada beberapa pos.
Total pendapatan PT TWC pada 2019 tercatat Rp 476,155 miliar. Jumlah ini meningkat dari Rp 423,351 miliar pada 2018 dan Rp 370,057 miliar pada 2017. “GRC ini sudah jadi praktk keseharian kami di TWC sejak 2016 dan hasilnya sudah kami rasakan. Itu yang paling utama,” ujar dia.
Saat ini, menurut Edy, PT TWC sedang mengejar penerapan ISO 31000 tentang manajemen risiko, di samping juga menerapkan standar ISO yang lain. ISO tersebut sangat penting karena perseroan selain menghadapi persoalan internal juga gangguan dari eksternal. “Ini semua terus kita kerjakan, dan diharapkan membuat kinerja perusahaan menjadi lebih baik,” tutur dia.
Sebagai satu-satunya BUMN yang memiliki ruang lingkup usaha pengelolaan cagar budaya, PT TWC kini sedang melakukan transformasi bisnis menjadi Indonesia Heritage Management Corporation (IHMC). IHMC adalah perusahaan yang mengelola dan mewaralabakan kemampuan pengelolaan aset warisan budaya, baik di dalam maupun luar Indonesia.
Dengan kompetensi inti di bidang pengelolaan, pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya yang unggul, Edy optimistis langkah terobosan itu bisa berjalan dengan baik. “Sasaran yang ingin kami capai dengan IHMC ini adalah menjadikan cagar budaya sebagai pusat bagi pengembangan ekosistem lingkungan ekonomi yang memberikan daya tarik bagi tumbuhnya budaya lokal, yang didasarkan pada partisipasi aktif para pemangku kepentingan berdasarkan pendekatan 3 P (People, Profit, Planet),” tutur Edy.
Siap Beroperasi Kembali
Kepada dewan juri TOP GRC Awards 2020, Edy Setiono juga menyampaikan soal upaya manajemen PT TWC dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang cukup berdampak terhadap kinerja perseroan. Sejak Maret 2016 hingga saat ini, PT TWC menutup sementara Kawasan Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko bagi wisatawan.
“Karena ini sudah menjadi bencana nasional, kami mengacu pada tata kelola terkait kebencanaan. Di sini ada Tim Satgas Kebencanaan. Kami sekarang fokus dari sisi internal dan eksternal, kalau internal mudah dikondisikan, yang sulit itu terkait eksternal, karena ada protokol Covid untuk ruang publik yang wilayahnya bukan di bawah kendali kami,” ujar Edy Setiono yang menyebutkan bahwa wilayah objek wisata yang dikelola perseroan masuk zona merah Covid-19 sehingga belum bisa dibuka untuk publik.
Meski demikian, menurut Edy, manajemen PT TWC dari jauh hari sudah mempersiapkan tata laksana protokol Covid-19 untuk internal perusahaan dan pengunjung jika objek wisata tersebut sudah dibuka kembali. Untuk membuat protokol Covid di tempat wisata, pihak manajemen sebelumnya ingin melihat langsung protokol yang diterapkan oleh Disneyland Shanghai, sebagai pengelola tempat hiburan yang pertama buka pasca Covid di China.
Namun karena ada pembatasan akses ke China sehingga pihaknya mempelajari penyusunan protokol Covid hanya dari chanel Youtube. Saat ini, protokol yang disusun perseroan sudah siap diterapkan danbahkan beberapa pihak menilai protokol yang kami buat lebih bagus ketimbang yang ada di Disneyland Shanghai.
“Jadi dari sisi kami sebenarnya sudah siap dibuka, tapi itu belum bisa dilakukan karena wilayah kami masuk zona merah. Ternyata GRC saja tidak cukup, kita butuh dukungan lingkungan supaya ekosistem ini berjalan,” kata Edy.
