Jakarta, TopBusiness—Pengamat pajak, Yustinus Prastowo, mengatakan bahwa untuk mengatasi dampak Covid-19 terhadap ekonomi, mengandalkan utang memang tidak terhindarkan. Dan dari situ tentunya ada beban bunga utang.
“Maka ke depan, pajak menjadi andalan. Ini pun tujuannya agar kita bisa lebih mandiri dari pajak,” kata dia dalam suatu seminar daring yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pajak Bali, hari ini.
Untuk saat ini, memang kebijakan pajak berubah cepat. “Kalau kini, kita bicara lebih banyak tentang stimulus pajak, bukan peningkatan pajak. Dan yang perlu kita pikirkan adalah agar stimulus [pajak] ini tepat pada sasarannya,”kata dia.
Ditambahkannya, “Maka mumpung saat ini sedang ada intensif pajak yang banyak dari pemerintah, sebaiknya dimanfaatkan. Dan ke depan, kita perlu cari pajak yang menguntungkan bagi semua,” kata dia.
Saat ini, perekonomian benar-benar terhenti di kuartal kedua 2020. Hampir semua negara terdampak kepada Covid-19. “Bukan hanya memukul sektor keuangan, dampak Covid-19 memukul semua sektor. Kita harapkan bahwa PSBB dan lain-lain, efektif . Dengan demikian, ekonomi bisa tumbuh lagi,” ucap Yustinus.
Di seminar daring yang sama, pengamat bisnis M. Lutfi Handayani pun menjelaskan sejumlah hal tentang ekonomi dan dampak Covid-19. Dijelaskannya, berbagai pihak sudah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2020 dan 2021, terkoreksi. Jadi, dampak Covid-19 terhadap ekonomi itu memang besar. “
Dari sini, kita bisa tarik kesimpulan bahwa perlu adaptasi terhadap ekonomi saat Covid-19,” kata pemimpin redaksi Majalah TopBusiness itu.
“Kita perlu antisipasi dan tentukan strategi dari proyeksi suram ekonomi itu, jadi jangan lantas menjadi takut,” kata dia.
Ada dua hal pembeda krisis akibat Covid-19 dengan krisis yang sebelumnya. Yakni, sumber krisis dan dampak Covid-19, harus diatasi sekaligus secara bersamaan. “Kalau krisis yang dulu, kan pemicunya sudah selesai, lalu kita tinggal mengatasi dampaknya.”
Karena Covid-9, ada 41% kegiatan usaha yang bisa bertahan hanya kurang dari tiga bulan. “Ini secara nasional, jadi bayangkan beratnya.”
Lutfi berkata, “Yang bisa bertahan tidak sampai enam bulan, ada 24%. Sedangkan yang bertahan 6-12 bulan, hanya sebesar 11%. Kalau usaha mandiri, itu malah hanya bisa bertahan dua bulan.”
Bali, ia menjelaskan, terdampak dalam hal menurunnya jumlah wisatawan. Demikian pula halnya dengan pariwisata nasional. Perkembangan transportasi udara pun turun drastis.
“Di Bali, kunjungan wisatawan di Mei 2020 hanya ada 36 kunjungan. Jadi dampaknya luar biasa. Jadi ini semua, merupakan kondisi yang perlu sinergi dan kolaborasi untuk diatasi. Ekspor-impor ke Bali pun turun signifikan,” papar dia.
“Kabar bagusnya, sudah ada tahapan recovery untuk pariwisata Bali. 9 Juli ini, pariwisata Bali sudah terbuka untuk [wisatawan] lokal Bali. Dan sudah ada skema tahapan pembukaan selanjutnya,” ucap Lutfi.
Keterangan Foto: Pasar Tanah Abang (Jakarta), Saat Masa PSBB Awal
Pewarta Foto: Rendy MR/TopBusiness
