TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC, Bikin Kinerja Taspen Life Lebih Stabil Saat Pandemi

Busthomi
17 July 2020 | 11:24
rubrik: Event, GCG
GRC, Bikin Kinerja Taspen Life Lebih Stabil Saat Pandemi

Jakarta, TopBusiness – PT Asuransi Jiwa Taspen atau yang dikenal dengan Taspen Life memang masih berusia muda. Namun begitu, bukan berarti dalam kinerja perusahaan juga biasa-biasa saja. Buktinya dalam mencapai segala kinerja tersebut, anak usaha PT Taspen (Persero) itu kerap mengedepankan paraktik-praktik pengelolaan Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang profesional dan andal. Hal itu pun terlihat dari implementasi GRC yang sudah ditopang oleh sisitem IT yang mumpuni.

Salah satunya terkait dengan risk management. Apalagi sebagai perusahaan asuransi, faktor risiko memang sangat melekat. “Tapi kita harus berani mengambil risiko itu dan mengelolanya dengan prudent. Terlebih di saat pandemi seperti sekarang. Sehingga kinerja kita bisa terus stabil dan terjaga. Termasuk menjaga instrument investasi yang dilakukan secara prudent,” tutur Plt Direktur Utama dan Direktur Kepatuhan Taspen Life, Indra.

Indra yang didampingi jajaran manajemen Taspen Life lainnya mengatakan hal tersebut ketika mengikuti sesi penjurian Top GRC Award 2020 yang digelar Majalah TopBusiness secara virtual di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Menurutnya, dalam identifikasi risk profile yang dilakukan oleh perusahaan, pihaknya melakukannya secara periodic, baik melalui pendekatan bottom-up maupun top-down. Untuk pendekatan bottom-up, dilakukan melalui proses risk self assessment oleh setiap divisi, sedang untuk pendekatan top down dilakukan seiring dengan penyusunan RKAP dan RJPP perusahaan.      

Implementasi itu pun sejalan dengan penerapan three lines of defense yakni untuk first line defense, identifikasi risiko level proses dilakukan oleh setiap divisi secara self-assessment dengan menggunakan pendekatan analisis proses. Untuk second line defense, dalam mengukur risiko, desk manajemen risiko melaksanakan evaluasi berkala atas kelayakan asumsi, sumber data, dan prosedur yang digunakan dalam pengukuran risiko.

BACA JUGA:   WEGE Bangun Tower Undip Berkonsep Green Building

“Sementara untuk third line defense berupa satuan pengawasan intern yang mengevaluasi manajemen risiko secara periodic untuk mengetahui kecukupan rancangan dan kondisi penerapan manajemen risiko perusahaan,” kata dia.

Dia pun mencontohkan soal risk appetite dalam penjualan produk asuransi jiwa saat ini lebih menyasar ke asuransi individu ketimbang asuransi jiwa kumpulan. Namun sejauh ini, pihak perseroan memang lebih banyak ke pasar produk kumpulan ketimbang produk individu. Dengan porsi 82% asuransi jiwa kumpulan dan 18% untuk asuransi jiwa individu.

“Memang dua-duanya itu memiliki keunggulan atau kelemahan masing-masing. Namun jika bicara risiko, asuransi kumpulan itu risiko lebih tinggi, sedang yang asuransi individu lebih terukur [risikonya],” katanya.

Adapun untuk instrument investasi, kata dia, karena kondisi pasar saat ini agak fluktuatif dan cenderung melandai, maka protofolio investasi yang diambil Taspen Life itu ke instrument yang lebih prudent, seperti Surat Utang Negara (SUN), ketimbang saham. “Kita sebagai perusahaan asuransi, ketika melihat ada pengalaman buruk di industri (asuransi), itu menjadi pelajaran. Makanya saat pandemi ini kita lebih mengarah ke produk investasi yang lebih prudent. Banyak di obligasi dan deposito,” Indra menjelaskan.

Saat ini untuk pendapatan investasi sendiri masih relative kecil sebesar 25%. Perusahaan masih lebih banyak mengandalkan pendapatan dari premi. “Dari total pendapatan kami di tahun 2019 lalu di angka Rp647 miliar, untuk pendapatan premi sebesar Rp495 miliar dan untuk pendapatan investasi sekitar Rp148 milira. Jadi kira-kira porsi pendapatan investasi sebanyak 25%,” ucap dia.

Dengan perolehan asset perseroan juga yang terus meningkat. Dari tahun 2018 lalu yang di angka Rp3,45 triliun menjadi Rp4,49 triliun di akhir 2019 lalu. Dan per kuartal I-2020 ini masih bertumbuh di posisi Rp4,59 triliun.

BACA JUGA:   PEP Sangasanga Field Sukses Kembangkan Program CSR yang Mendukung Keberlanjutan

Lebih jauh Indra menegaskan, perseroan juga mengandalkan sistem IT dalam implementasi GRC tersebut. Dengan begitu, pihaknya pun bisa mempraktikan e-KYC atau Know Your Customer (KYC) secara online karena sudah terintegrasi dengan Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri untuk memvalidasi data Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam SPAJ digital.

“Integrasi dengan Dukcapil itu kami lakukan validasai NIK. Dan ke depan, tak hanya validasi NIK, kami juga sedang mengembangkan eliminasi risiko melalui aura muka. Dan diharapkan implementasinya dalam waktu dekat ini” pungkas dia.

Foto: Top GRC 2020 TopBusiness

Tags: Taspen LifeTOP GRC Awards 2020
Previous Post

Indosat Ooredoo Hadirkan ICT

Next Post

Salim Ivomas Tahun Ini Fokus Pengendalian Biaya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR