Jakarta, TopBusiness – PT Mega Akses Persada (FiberStar), sebagai perusahaan penyedia Network Service Provider kabel serat optic pertama dengan konsep net-netralitas di Indonesia, sejak awal telah menempatkan sejumlah risiko atau Risk Appetite dalam berbagai tingkatan manajemen/board menjadi bagian yang terpisahkan dalam seluruh kegiatan dan perencanaan usaha.
“Sebagai penyedia jaringan infrastruktur digital, terutama, dalam membangun dan mengembangkan jaringan fiber optic, baik di darat maupun jaringan bawah laut, sejak awal FiberStar menyadari adanya risiko-ririko dalam usaha ini. Dalam hal ini, FiberStar sudah punya SOP tentang risk management, di mana semua kegiatan, terlebih untuk proyek yang dikerjakan, selalu ada analisa risk-nya. Berkat kesigapan manajemen dalam mereview dinamika risk yangberkembang, perubahan besar seperti saat terjadi pandemi Covid-19 yang sebelumnya tidak pernah terduga, bisa cepat kita antisipasi dengan baik. Sehingga operasioanal baik pengerjaan proyek jaringan baru di lapangan, maupun di level manajemen, tetap bisa berjalan dengan baik,” ungkap Dea Rendra Kirana – Bussiness Process Department Head FiberStar saat presentasi secara virtual di ajang Penjurian TOP GRC Awards 2020 pada (22/07/2020) yang dihelat majalah Top Business, di Jakarta.
Dikatakan, dengan menyertakan dan menghitung semua risiko-risiko yang mungkin terjadi sebagai satu kesatuan dalam setiap perencanaan bisnis, hal ini juga akan memudahkan penanganan jika risiko itu benar-benar terjadi. Apalagi perusahaan juga telah membuat strategy exit atau skenario cara memitigasi nya. Sehingga semua level di manajamen, bisa selalu mengacu dan mentati standar yang telah ditetapkan, sehingga bisa memenuhi aspek kesesuaian sesuai prinsip tentang penerapan Governance, Risk and Compliance (GRC).
“Dalam setiap project kami juga selalu mengkomunikasikan adanya risk appetite ini di semua level terkait yang dideskripsikan dengan jelas untuk dapat dipahami oleh unit-unit di dalam organisasi, agar bisa bersama mengelola risiko tersebut. Dalam hal ini, kami juga memiliki tim untuk memantau dan mereview risk appetite disinergikan dengan dinamika operasional, terutama jika terjadi perubahan agar cepat dicarikan solusi, seperti kejadian pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.
Dikatakan, sejak Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 resmi dinyatakan sebagai pandemi, FiberStar langsung bergerak cepat dengan membuat terobosan membentuk Gugus Tugas COVID-19. Di antaranya membuat Kebijakan dan Prosedur Karyawan melapor setiap ada kasus dicurigai Covid-19 dengan panduan DORSCON (Disease Outbreak Response System Condition) yang dilakukan sejak 10 Maret 2020. Antara lain mengatur aktivitas kerja, aktivitas di luar pekerjaan, informasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan, pengendalian penyakit, hingga Facility Management.
“Dalam hal ini, Divisi Human Capital Development (HCD), Health Safety Environment (HSE), dan Marcomm, langsung bergerak cepat melaksanakan sosialisasi terkait Covid -19 mulai dari himbauan hidup sehat hingga informasi penting lainnya sejak awal Maret lalu. Kami juga mewajibkan karyawan menggunakan masker sejak dari perjalanan dari/ke rumah dan selama di tempat kerja. Perusahaan juga menyiapkan masker kain dan masker medis di Kantor. Pembersihan area kerja setiap 4 jam sekali (pegangan pintu, tombol lift, peralatan kantor yang digunakan bersama), dan upaya preventif lainnya,” ujar Rendra didampingi Marthauli Yustisia, dari Divisi Marcomm FiberStar.
Melalui gerak cepat ini, FiberStar tetap bisa menjalankan roda perusahaan di tengah pandemi dengan menerapkan protokol keselamatan dan kesehatan karyawan. Bahkan, FiberStar tetap bisa mengejar perluas jaringan kabel optic di berbagai daerah. Hingga Juni 2020, jaringan kabel optic PT Mega Akses Persada (FiberStar) sudah menjangkau 133 kota di berbagai penjuru nusantara. Penambahan jumlah kota ini tersebar mulai dari Provinsi Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga DI Yogyakarta. Provinsi dengan penambahan kota cakupan jaringan optik terbanyak yaitu di Provinsi Jawa Tengah dan disusul Provinsi Jawa Timur.
“Tidak dapat dipungkiri bahwa proses bisnis perusahaan di tengah situasi pandemi ini banyak kegiatan operasional yang membutuhkan penyesuaian. Namun, situasi ini tidak menyurutkan semangat dan fokus perusahaan untuk tetap memperluas kota cakupan jaringan FiberStar sebagai salah satu bentuk wujud nyata dukungan untuk menciptakan kedaulatan digital di Tanah Air,” ujarnya.
Dalam hal ini, manajemen juga memanfaatkan sistem dan teknologi digital yang dapat digunakan dalam situasi pandemi. Di antaranya ada fasilitas yang dapat digunakan untuk remote working, virtual meeting and collaboration, digitalized document routing and handling, mobile attendance serta employee health monitoring.
Dalam mendukung pelaksanaan PSBB, FiberStar juga menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) untuk sebagian besar karyawan, termasuk kebijakan split operation bagi tim lapangan, yang ditunjang dengan sistem teknologi yang memadai selama masa pandemi ini. Perusahaan juga memberikan kesiapan sistem backend yang sudah dipersiapkan, termasuk employee health monitoring. ”Kami juga melakukan langkah antisipasi untuk tim pekerja lapangan dengan memberikan bekal Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standard rujukan yang berlaku. Sehingga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan, baik di sisi pelanggan maupun karyawan,” ujarnya.
Ditambahkan, karena operasional selama pandemi tetap berjalan optimal, kinerja usaha perusahaan juga bisa terus terjaga dengan baik. Terlebih saat terjadi pandemi covid-19, kebutuhan broadband dan kapasitas internet juga meningkat, sehingga utilisasi atau penggunaan jaringan tetap bisa optimal. Bahkan permintaan baru juga terus bertamabah, terutama untuk hunian guna menunjang work from home (WFH), belajar dan aktivitas lain yang mengandalkan internet dari rumah. “Kami pun cepat melakukan strategi switching business target agar bisa memenuhi tuntutan ini. Secara umum, hal ini juga berdampak positif pada kinerja usaha, di mana secarara grafik, revenue tetap terjaga, tidak turun. Detil angkanya, nanti kami bisa sampaikan secara tertulis melalui panitia ke dewan juri,” tandasnya.
Beroperasi di tahun 2014, FiberStar telah berkembang menjadi penyedia layanan infrastruktur nasional berbasis kabel fiber optik dengan konsep Net Neutrality. Dengan 100% Fiber Optik, jaringan FiberStar dibangun pada arsitektur akses terbuka, yang memungkinkan penyedia layanan telekomunikasi memberikan beragam layan bagi pelanggan.
Sebagai perusahaan dengan konsep Net Neutrality pertama di Indonesia, FiberStar berinvestasi pada jaringan mulai dari backbone hingga last mile solution di sejumlah kota yang mencakup Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi. FiberStar juga bertekad terus mendukung kemajuan demi pemerataan adopsi ICT di Indonesia sekaligus menciptakan Ketahanan Nasional khususnya dalam bidang Ekonomi Digital Tanah Air.
Penulis: Ahmad Chury
