Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina Bina Medika IHC atau PBM IHC memiliki penilaian tersendiri soal penerapan prinsip-prinsip governance, risk and compliance (GRC). Sebab, manajemen melaksanakan dengan penuh rasa seni.
Saat tanya jawab dalam sesi pendalaman materi secara virtual, di Jakarta, Selasa (18/08/2020) melalui event penjurian TOP GRC Awards 2020, Direktur Utama PBM IHC, Fathema Djan Rachmat menyatakan bahwa pihaknya bisa melaksanakan fase ke-2 dengan baik dengan belajar dari fase-1 dalam pembentukan holding RS BUMN melalui penerapan GRC.
“Menurut saya pada fase ke-2. Fase-1 ada sedikit masalah dan kami belajar bagaimana caranya. Jadi fase ke-2 kami menyatukan 7 perusahaan dengan 27 rumah sakit dengan suasana yang lebih nyaman,” ungkapnya, di hadapan dewan juri.
Dijelaskan dia, bagaimana keterbukaan, transparansi, pelaksanaan due dilligence, dijadikan satu kesatuan yang terintegrasi dengan tetap mengandalkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan dan GRC. “Kemudian kehadiran dari BPKP, itu bisa membantu. Dan kami juga membuat project manager officer (PMO) bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan, bagaimana penyatuan ini. Karena penyatuan ini tak mudah baik dari segi keuangan, akuntansi, hukum (legalnya), kemudian status tanahnya, status kepemilikan bisa saja lebih dari 1, ada yang sudah IPO,” paparnya.
Manajemen dalam melaksanakan fase ke-2 dengan mengutamakan transparansi dan akuntabilitas dengan menggabungkan dengan berbagai masukan dari berbagai pemangku kepentingan dan institusi hukumnya sebagai sebuah seni.
“Menurut saya ada art-nya. Ada seninya bagaimana menyatukan ini, menurut saya ini benar. Kalau pelaksanaannya itu tidak ada orang yang merasa dirugikan. Dia merasa ini win, maka menurut saya itu yang saya rasakan ini value,” ujarnya.
Lanjutnya. “Nah ternyata dengan penerapan governance, keterbukaan, menurut saya itu adalah kunci dari pada bagaimana menerapkan good governance culture tadi. Jadi bagian penting dalam pengembangan perusahaan,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, dalam kondisi Covid-19 ini adalah waktu yang tepat bagi perusahaan untuk menjadi lokomotif rumah sakit atau RS. Selain menjadi rujukan. RS ini menjadi lokomotif, termasuk RS yang lain, RS jaringan. Kita ingin mendorong bahwa Indonesia memiliki RS jaringan yang terkuat dan Indonesia harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Sekarang momennya bahwa masyarakat sudah tidak bisa lagi berangkat ke Singapura, Thailand, Korea Selatan untuk berobat.
“Ini menurut saya moment yang penting untuk Indonesia meningkatkan memperbaiki kualitas layanannya untuk bisa menghadirkan layanan yang kelasnya world class hospital. Jadi kami akan mengarahkan ke sana, namun demikian ada satu hal yang harus kita lakukan adalah walaupun kami swasta, kami harus menjadi research hospital. Dengan bekerja sama dengan holding farmasi dan juga dengan asuransi dan dengan manajemen yang kami miliki,” jelasnya.
Selanjutnya, para dokter dan perawat Indonesia tak kalah kualitasnya dalam penanganan pasien. “Kami juga melakukan riset validasi pada artifisial intelegent (AI), penilaian terhadap hasil CT-Scan dari seorang pasien covid. Apakah pasien ini covid atau tidak kami bandingkan antara dokter yang menilai dengan AI yang menilai, ternyata memang sama. Sebenarnya kita harus bangga dengan dokter kita, bahwa sebenarnya. Yang perlu dilakukan adalah memberikan kesempatan dan kita memfasilitasi untuk tentunya world class hospital termasuk tourism medical,” pungkasnya.
