Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG hingga sesi penutupan perdagangan Senin (16/11/2020) di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan melemah, sebab aksi ambil untung (profit taking).
Dalam riset harian Samuel Sekuritas Indonesia via samuel.co.id, di Jakarta, memperlihatkan pasar AS pada hari Jumat lalu ditutup menguat dengan kenaikan 1,37% pada index Dow Jones, 1,36% pada index S&P500 dan 1,02% pada Nasdaq. Perhatian dari investor akan tertuju pada kembali melonjaknya infeksi Covid-19 baik di negara Paman Sam itu sendiri maupun secara global.
Dari dalam negeri, kasus harian Covid-19 pun kembali naik dan mencatatkan rekor baru pada Jumat lalu sebanyak 5.444 kasus. Pada hari Minggu kemarin, terjadi penambahan sebanyak 4.106 kasus baru (Sabtu 5272 kasus). Walaupun pada hari Minggu terlihat berkurang, namun hal tersebut terjadi karena jumlah test yang dilakukan berkurang (Minggu: 25.396 test & Sabtu: 38.710). Rasio dari pasien yang terinfeksi pada hari Minggu lebih besar dari pada hari sebelumnya (Minggu: 16,2% positive rate & Sabtu: 13,9% positive rate).
Saat ini total kasus kumulatif Covid-19 berjumlah 467.113 kasus, kasus yang aktif berjumlah 59.911 pasien (12,8% active cases), pasien yang sembuh berjumlah 391.991 (83,9% recovery rate), dan pasien meninggal sebanyak 15.211 (3,3% death rate). Kembali tingginya kasus Covid-19 ini dikhawatirkan membuat pemerintah harus melakukan kebijakan PSBB Kembali.
IHSG pada hari Jumat ditutup flat secara harian 0,04% dan secara mingguan plus 2,36% pada pekan lalu ke level 5.461. Dengan minimnya sentiment positif, IHSG rawan untuk terkena aksi profit taking. Dari dalam negeri, yang dapat diperhatikan hari ini adalah rilis data ekspor (prev: -0.51% yoy), Impor (prev: -18.67) dan data trade balance (prev: USD 2.44 miliar).
“Untuk IHSG pada hari ini diperkirakan akan melemah seiring dengan aksi profit taking dan kekhawatiran akan melonjaknya Kembali kasus Covid-19 di Indonesia,” demikian tersebut.
Foto: Rendy MR
