Jakarta, TopBusiness – Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melaporkan, di tengah pandemic covid-19 yang belum juga mereda ini tercatat untuk imbal hasil (yield) obligasi pemerintah dan korporasi mulai terkoreksi dalam pekan kelima November 2020 itu.
Untuk imbal hasil obligasi pemerintah untuk 10 tahun turun menjadi 6,19% pada Jum’at (27/11) dari sebelumnya 6,22% di akhir pekan sebelumnya Jum’at (20/11).
“Hal ini dipengaruhi dengan tren stimulus fiskal yang digelontorkan oleh Bank Sentral serta negara-negara di dunia yang turut menguntungkan pasar obligasi Indonesia,” tutur hasil riset tersebut dalam Weekly Economic Update Pekan Lelima November 2020, di Jakarta, Rabu (2/12/2020).
Kebijakan ini, kata dia, akan meningkatkan likuiditas global, sehingga aliran modal asing melalui obligasi kemungkinan akan meningkat.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemerintah telah melakukan lelang surat berharga syariah negara (SBSN) dengan total penawaran masuk sebesar Rp24,93 triliun pada Selasa (24/11).
Minat investor yang tinggi terlihat dari penawaran masuk pada lelang kali ini. Hai ini menunjukkan keyakinan investor asing untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Hal yang sama juga terjadi di surat utang miik perusahaan. Tercatat, untuk yield obligasi korporasi ini juga mengalami penurunan. Untuk obligasi korporasi dengan peringkat AAA, imbal hasil untuk tenor 9-10 tahun berada di kisaran 7,92%-7,96%.
Sementara untuk obligasi berperingkat AA dengan tenor 9-10 tahun berada di kisaran 8,66%-8,68%. “Dan untuk obligasi berperingkat A dengan tenor 9-10 tahun menjadi 10,47%-10,50%, serta yang terakhir untuk obligasi berperingkat BBB di kisaran 12,28%-12,46%,” terangnya.
Namun hal itu berbeda dengan imbal hasil obligasi di pasar global. Pada Jum’at (27/11) itu, imbal hasil treasury AS untuk 10-tahun ternyata naik menjadi 0,84% dari sebelumnya 0,82% di Jum’at (20/11).
Peningkatan tersebut dipengaruhi adanya kekhawatiran tentang berlanjutnya lonjakan kasus virus corona dan kemungkinan data ekonomi yang lebih lemah minggu depan di tengah lockdown di beberapa negara bagian AS dan di seluruh dunia. “Data ekonomi AS minggu depan yang berat termasuk non-farm payrolls untuk November, bisa memperkuat ekspektasi kemunduran dalam pemulihan AS,” pungkasnya.
Foto: Istimewa

