Jakarta, TopBusiness – PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) akan melakukan Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO) di bulan ini. Dalam aksi korporasi kali ini, perseroan melepas sebanyak-banyaknya 5.923.076.900 saham baru ke publik atau setara dengan sebanyak-banyaknya 35% dari modal yang ditempatkan dan disetor pasca IPO.
Dalam IPO ini, Widodo Makmur Unggas menawarkan harga di kisaran antara Rp142 hingga Rp200 per saham. Perseroan suidah mengantongi pernyataan pra-efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 Desember 2020 lalu. Degan proses penawaran umum perdana pada 7 Januari hingga 13 Januari 2021. Sehingga ditargetkan, pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 29 Januari 2021.
Perseroan pun menunjuk CIMB Niaga Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, dan Samuel Sekuritas sebagai Joint Lead Underwriters (JLU)-nya.
Selain itu, bersamaan dengan pelaksanaan IPO ini, WMU juga akan melakukan penjatahan saham melalui program alokasi saham pegawai atau Employee Stock Allocation (ESA). Dalam program tersebut, perseroan menjatahkan sebanyak-banyaknya 7,5% dari jumlah saham IPO. Selain itu, WMU pula memberikan opsi kepemilikan saham oleh manajemen (MSOP) sebanyak-banyaknya 1% dari portepel IPO.
Direktur Utama Widodo Makmur Unggas, Ali Mas’adi mengatakan, perseroan akan menggunakan dana IPO itu sebesar 74,3% untuk ekspansi dengan menambah serta memperluas sarana produksi. Ekspansi tersebut antara lain untuk pembangunan fasilitas Breeding PS Farm di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kemudian, pembangunan fasilitas Layer Commercial Farm di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lalu, pembangunan fasilitas Hatchery di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat; pembangunan fasilitas Broiler Commerical Farm di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah; pembangunan fasilitas Slaughterhouse di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat; dan pembangunan fasilitas Feedmill di Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur.
Sementara sisa dana IPO atau sebesar 25,7% akan digunakan untuk modal kerja perseroan terutama untuk pembelian bahan baku pada Feedmill dan pembelian Ayam Broiler Komersial untuk Slaughterhouse. Peningkatan kapasitas produksi akan berdampak terhadap penetrasi pasar yang lebih baik lagi ke depannya.
“Kami optimis dapat meraih kesuksesan IPO di tengah pandemi Covid-19 ini,” tandas Ali yakin dalam Due Dilligence Meeting dan Public Expose Penawaran Umum Perdana Saham PT Widodo Makmur Unggas di Jakarta, Rabu kemarin, seperti dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (7/1/2021).
Saat ini, komposisi kepemilikan saham WMU dimiliki oleh PT Widodo Makmur Perkasa (WMP) 90,00%. Sedang sisanya, atas nama Warsini dan atas nama Wahyu Andi Susilo masing-masing 5,00%.
Lanjutkan Kinerja Positif
Di tengah pandemi Covid-19 ini, WMU tetap optimis dapat melanjutkan torehan kinerja positif. Pada tahun ini, perseroan memproyeksikan penjualan meroket naik 436% dan laba bersih 259% dari tahun lalu. WMU pun fokus pada pengembangan bisnis produksi karkas, apalagi di sepanjang semester I-2020 produksi karkas tumbuh 22% menjadi 16.000 ton.
“Konsumen kita tersebar di seluruh Indonesia dan kebutuhan protein daging ayam nasional terus meningkat. Jadi kita yakin penjualan tahun ini tumbuh tajam,” imbuh Ali Mas’adi.
Perseroan yang bergerak di bidang peternakan ayam terintegrasi vertikal ini terus menorehkan kinerja cemerlang. Hingga semester I-2020, perseroan mengantongi penjualan bersih sebesar Rp508,39 miliar atau melonjak drastis 135,33% dari periode sama tahun 2019 sebesar Rp216,03 miliar. Gross marjin tercatat meningkat 107,93% menjadi Rp70,51 miliar, dibandingkan periode sama tahun 2019 sebesar Rp33,91 miliar.
EBITDA marjin tercatat tumbuh tinggi 81,4% menjadi Rp57,23 miliar, dibandingkan periode sama tahun 2019 sebesar Rp31,55 miliar. Net marjin tercatat naik 95,4% menjadi Rp31,71 miliar dibandingkan periode sama tahun 2019 sebesar Rp16,23 miliar.
Total aset hingga semester I-2020 mencapai Rp1,16 triliun dari posisi akhir tahun 2019 sebesar Rp864,18 miliar. Total liabilitas pun tercatat turun di sepanjang enam bulan pertama 2020 menjadi Rp539,17 miliar dari Rp563,68 miliar pada akhir Desember 2019. Total ekuitas melonjak tajam di semester I-2020 menjadi Rp628,9 miliar dibandingkan akhir Desember 2019 sebesar Rp300,5 miliar.
Rasio lancar (current ratio) pada semester I tahun lalu itu pun menjadi 1,27 kali dari akhir Desember 2019 sebesar 1,55 kali, dan rasio utang terhadap aset (debt to assets) turun di semester pertama itu menjadi 46,16% dari akhir Desember 2019 sebesar 65,23%.
Begitu pula, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity) turun tajam menjadi 85,73% dari posisi akhir Desember 2019 sebesar 187,58%. Untuk posisi Return on Assets (ROA) di semester pertama tercatat 2,72% dan Return on Equity (ROE) sebesar 5,04%.
WMU memiliki unit-unit bisnis meliputi breeding farm, hatchery, commercial broiler farm, commercial layer farm, slaughterhouse, dan feedmill di beberapa lokasi fasilitas yang tersebar di Pulau Jawa. Perseroan dikelola secara profesional oleh tim manajemen yang paham akan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).
WMU menciptakan operasi terstandarisasi berdasarkan kekuatan riset dalam menentukan genetika ternak terbaik, teknologi pakan dan pertanian, menerapkan bio-security dengan ketat dan Good Farming Practices (GFP) serta Good Breeding Practices (GBP) di peternakan.
Model bisnis ini menghubungkan berbagai proses bisnis dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani Indonesia dengan produk daging ayam yang diproduksi oleh Widodo Makmur Unggas.
“Kami yakin dan percaya dengan prospek yang positif yang akan ditawarkan oleh Widodo Makmur Unggas di masa yang akan datang, kini publik dapat menjadi bagian dari peluang investasi ini. Pertumbuhan Widodo Makmur Unggas akan didukung oleh tingginya pertumbuhan pelanggan dan permintaan secara berkelanjutan terkait kualitas dan inovasi pelayanan,” pungkas Ali Mas’adi.
FOTO: Due Diligence Meeting & Public Expose Penawaran Umum Perdana Saham PT Widodo Makmur Unggas Tbk, di Jakarta, pada Rabu (6/1/2021). (Kanan ke kiri) Direktur Keuangan – Wahyu Andi Susilo, Sekretaris Perusahaan – Puti Retno Ali, Direktur Utama – Ali Mas’adi, Komisaris Utama – Tumiyana, Direktur Pemasaran – Tri Mahawijaya Herlambang, dan Direktur Operasi – drh. Harsono Eddy. (Istimewa)

