Jakarta, TopBusiness – Awal November 2019, dunia kesehatan Tanah Air dibuat terkagum dengan capaian yang diraih Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Iskak Tulungagung. Kala itu RSUD dr. Iskak mendapat penghargaan Gold Award sebagai RS Terbaik untuk kategori IHF/Bionexo Excellence Award for Corporate Social Responsibility dalam forum International Hospital Federation (IHF) Congress and Award ke43 di Oman, Uni Emirat Arab.
Capaian ini diraih berkat inovasi tata kelola perumahsakitan yang digagas Direktur RSUD dr Iskak, dr Supriyanto Dharmoredjo dengan menerapkan konsep The New Concept Hospital Management Combined with Public Safety Centre (PSC). Konsep ini memiliki karakter “Low Cost High Quality and Social Responbility”. Yakni berbiaya murah tapi layannya bermutu tinggi dan dibekali SDM-nya dengan rasa penuh tanggung jawab sosial.
Inovasi ini dinilai menjadi sebuah solusi baru manajemen perumahsakitan Indonesia di era Jaminan Kesehatan Nasional dengan karakter biaya rendah dan berkualitas tinggi. Konsep ini kemudian dipadukan dengan PSC yang merupakan pusat keselamatan, keamanan dan kenyamanan terpadu dengan layanan call center di 119 atau 0355-320119. Berkat inovasi ini, kini RSUD dr. Iskak menjadi Rumah Sakit yang sangat populis saat ini.
Direktur RSUD dr Iskak, dr Supriyanto Dharmoredjo mengatakan dengan penerapan prinsip low cost high quality and social responsibility manajemen pelayanan kesehatan perumahsakitan pun bertransformasi dari yang semula pasif menunggu pasien datang, kini menjadi proaktif melayani.
“Inilah yang dinamakan Hospital Without Wall, rumah sakit tanpa dinding. Jika ada orang sakit di jalanan, jika ada orang terancam jiwanya di luar rumah sakit, maka rumah sakit punya tanggung jawab untuk menolongnya. Bukan menunggu mereka diantar di rumah sakit baru ditangani. Itu dasar pemikirannya,” kata dr. Supriyanto
Dr. Supriyanto menuturkan Konsep Hospital Without Wall yang diimplementasikan merupakan kesinambungan layanan pre-hospital, intra-hospital dan post-hospital dengan pemanfataan teknologi informasi untuk memberikan Pelayanan Kesehatan secara Paripurna.
“Prinsip kerja dari inovasi ini adalah menyatukan layanan yang mampu menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat secara virtual berbasiskan kemajuan teknologi informasi. Pasien tidak perlu direpotkan dengan masalah transportasi maupun sumber pembiayaan. Pasien yang tidak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan dan tidak tercover dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional, dibiayai dari dana “Corporate Social Responsibility” Rumah sakit dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,” ujar dr. Supriyanto.
Bentuk implementasi inovasi salah satunya melalui kehadiran Emergency Button PSC 119 yang terhubung dengan Global Positioning system ( GPS ) menggunakan teknologi gadget Android.
“Jika terjadi kecelakaan, warga langsung tekan aplikasi Emergency Button PSC Tulungagung. Operator langsung mengetahui posisi terjadinya kecelakaan. Operator, langsung menelpon balik untuk memastikan pertolongan apa yang dibutuhkan,” tegas nya
Pertolongan via online itu tidak hanya dalam kodisi gawat darurat, tapi masyarkat bisa melaporkan jika menemui warga yang sakit dan butuh penanganan. “Tenaga PSC ini puluhan orang, dan semuanya tenaga medis. Termasuk tenaga komunikatornya ataupun operatornya berterampilan khusus. Mereka kami sekolahkan di Malaysia. Kenapa mereka harus dari tenaga khusus, bukan sekedar operator. Sebab terkait dengan penanganan keselamatan ketika orang menghubungi PSC 119 harus mampu menjelaskan cara penanganan korban, sampai tindakan medisnya secara online,” paparnya.
Dengan terobosan itu, dr. Supriyanto menyatakan bahwa semua kelompok masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan, justru di rumah sakitnya 85 persen pasiennya tercover BPJS, bahkan warga miskin yang tanpa kartu sehat tetap wajib dilayani.
Inovasi Layanan
Di samping beberapa terobosan di atas, RS dr. Iskak Tulungagung juga memiliki beberapa inovasi layanan lainnya seperti Si Poetri (sistem pendaftaran online tanpa antre), Si Tole (sistem pendaftaran tutol dewe) serta TEMS (Tulungagung Emergency Medial Service).
Program Si Poetri berbasis Android, sehingga para pasien bisa melakukan registrasi di rumah tanpa harus antre langsung di rumah sakit Dengan program itu, pasien juga mendapat kepastian estimasi jam layanan yang akan diperoleh.
Sedangkan Si Tole, merupakan layanan sistem layanan pendaftaran secara mandiri yang disediakan di rumah sakit. Pasien yang datang bisa melakukan pendaftaran melalui dua sistem, yakni secara manual di loket ataupun menggunakan komputer yang telah disediakan.
Sementara itu TEMS atau PSC (Public Service Center) 199, merupakan layanan yang terintegrasi dengan berbagai instansi kedaruratan yang lain seperti kepolisian, damkar hingga kesehatan. Masyarakat yang membutuhkan layanan darurat cukup menelepon 199. Layanan tersebut terpantau secara online.
Tak hanya itu, rumah plat merah tersebut juga memiliki program Layanan Syndroma Koronaria Akut Tertintegrasi (Laskar). Program ini dinilai cukup berhasil untuk menekan angka kematian akibat jantung koroner.
“Laskar itu mampu mengurangi risiko kematian hingga 50 persen akibat jantung koroner. Ini didasarkan dengan data layanan sebelum program dijalankan,” terang dr. Supriyanto
Berkat beberaapa terobosan dan inovasi yang telah dilakukan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap RS dr. Iskak Tulungagung terus naik dari tahun ke tahun. Tercatat dalam tiga tahun terakhir IKM berada pada Skala sangat baik yakni di angka 83.05 (tahun 2018), 84.45 (tahun 2019) dan 85.63 (tahun 2020) dari total 21 unsur layanan yang dimiliki.
Selain itu, RS dr. Iskak juga tidak bergantung pembiayaan dan suntikan dana pemerintah daerah dan pusat, dimana dibuktikan tahun 2019 cost recovery ratenya (CRR) mencapai 101,65 persen dengan total pendapatan sebesar Rp 288 miliar sementara total belanja sebesar Rp 283,3 miliar dan meningkat di tahun 2020 dimana CRR mencapai 124,94 persen dengan total pendapatan sebesar Rp 331,4 miliiar sementara total belanja sebesar Rp 265,2 miliar.
Penulis: Abi Abduljabbar Siddiq
