Jakarta, TopBusiness – Perumda Air Minum Tirta Mayang Kota Jambi terkena dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja keuangannya di akhir tahun buku 2020. Kendati demikian, manajemen optimis bakal ada perbaikan di masa mendatang dan usaha untuk memajukan layanan lebih baik lagi.
Saat berbicara dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2021, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mayang, Dwike Riantara, menyatakan bahwa penyebab merosotnya pendapatan perusahaan adalah wabah virus Corona hingga saat ini.
Dia menyebutkan bahwa tahun 2020 merupakan situasi yang sulit bagi semua sektor, tak terkecuali dengan perusahaan pengelola air minum. Sebab, sejumlah sektor industri yang menunjang pendapatan perusahaan air minum terkena dampak pandemi Covid-19.
“Memang tahun 2020 itu merupakan situasi yang sulit bagi semua sektor, termasuk sektor pengolahan air minum. Walaupun, dalam indikasinya konsumsi air pada masa pandemi itu meningkat. Karena orang lebih banyak di rumah. Terjadi juga penurunan konsumsi air, misalnya di sektor komersial bisnis. Ini tak hanya terjadi di Jambi, tapi kita tahu di semua kota, hampir 80 persen seluruh perusahaan air minum di Indonesia,” papar dia.
Perumda Air Minum Tirta Mayang mencatat rugi di tahun buku 2020 sebesar Rp 14,692 miliar, sebelumnya laba Rp 16 miliar (2019).
Penyebaran virus Corona telah membuat banyak orang lebih memilih berdiam diri dan bekerja di rumah, pada awalnya. Sehingga, kebutuhan konsumsi air bersih semakin meningkat di sambungan rumah tangga.
Tak hanya berhenti di situ saja, pandemi Covid-19 telah menekan ekonomi sebagian masyarakat di Indoensia. Penyebabnya, mayoritas sektor industri lebih memilih untuk menutup sementara operasional bisnis, bahkan lebih dari itu ada yang harus rela memberhentikan para karyawan.
Melihat kondisi masyarakat Kota Jambi, terutama pelanggan Perumda Air Minum Tirta Mayang menyebabkan manajemen melakukan pengaturan atas pendapatan yang seharusnya. “Ada kontribusi yang harus kami berikan dengan penggratisan pembayaran air minum hingga mencapai Rp 3,3 miliar,” tutur dia.
Selanjutnya, perusahaan umum daerah itu juga tak tinggal diam melihat kondisi ekonomi masyarakat Kota Jambi terkena dampak pandemi. Sebagai perusahaan yang sahamnya milik Pemkot Jambi, manajemen tergerak untuk menyalurkan bantuan dalam berbagai cara guna merealisasikan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
“Kemudian kami juga melakukan beberapa kegiatan CSR. Dan pada masa pandemi tersebut, Bapak/Ibu tahu bahwa kemampuan ekonomi masyarakat melemah sehingga pendapatan dari pembayaran rekening pun turun drastis,” kata dia menegaskan secara daring melalui skema zoom meeting yang berlangsung, Jumat (11/06/2021).
Selanjutnya, Dwike optimis bahwa kinerja Perumda akan lebih baik seiring dengan perbaikan yang akan dilakukan.
“Dan kami juga dipersulit lagi dengan adanya kenaikan biaya-biaya. Saya rasa ini juga merupakan kondisi yang umum pada saat pandemi, terutama awal-awal pandemi Covid-19 tahun 2020. Dan masih berlanjut hingga 2021 ini, meskipun sekarang kami sudah melihat trennya membaik sehingga mungkin pada akhir tahun, kita bisa memperbaiki keadaan,” pungkas dia.
