TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GeoDipa Dukung Upaya Pemerintah Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Albarsyah
12 June 2021 | 17:23
rubrik: Business Info
GeoDipa Dukung Upaya Pemerintah Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Jakarta, TopBusiness – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan bahwa saat ini  dunia dihadapkan pada ancaman yang sama katastropik dampaknya seperti pandemi  covid-19, yaitu perubahan iklim.

Hal tersebut disampaikan dalam webinar  bertema “Climate Change Challenge: Preparing for Indonesia’s Green and Sustainable Future”, yang diselenggarakan Direktorat Inovasi dan Science Techno Park (DISTP)  Universitas Indonesia (UI), Jumat (11/6/2021) akhir pekan kemarin.

Menurutnya, setiap negara harus menyiapkan dan berkontribusi karena isu perubahan iklim adalah persoalan global, tidak ada batasan wilayah dampak dari perubahan iklim.  Indonesia sebagai negara besar, turut diminta berperan aktif di dunia internasional dalam  meminta komitmen negara-negara tetangga dan negara-negara maju dalam memenuhi  konsekuensi sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan transformasi dari high carbon  menjadi low carbon atau bahkan zero carbon emission.

Dikatakannya, beberapa sektor memiliki peranan penting seperti Kementerian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan (KLHK) melalui deforestasi yang telah membuahkan hasil positif dengan  mendapatkan dana kompensasi dari penurunan CO2 dari deforestasi, termasuk juga pekerjaan  rumah bidang energi terbarukan dengan target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar  23% pada 2025.

Adapun isu lingkungan hidup termasuk di dalamnya mengenai penurunan emisi karbon dan  komitmen Perjanjian Paris merupakan agenda prioritas nomor enam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Salah satu upaya pemerintah  untuk menurunkan emisi CO2 adalah dengan mendorong pemanfaatan potensi energi baru  terbarukan menjadi sumber tenaga listrik.

Riki Firmandha Ibrahim, Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan sumberdaya energinya, tidak hanya memiliki sumberdaya Migas dan batubara, tetapi juga geothermal yang terbanyak potensinya di dunia baik low enthalpy, medium enthalpy dan high enthalpy.

BACA JUGA:   2016,Korporasi Akan Terbitkan Obligasi Rp 66 Triliun.

Ke depan, sumberdaya Migas dan Batubara  semestinya dapat dipergunakan dengan nilai tambah yang lebih strategis dan tinggi nilainya, tidak  untuk pembangkit listrik.

“Titahnya, Indonesia pantas untuk menjadi Geothermal Center of Excellence, dimana SDM,  pabrikan, supply chain seperti drilling dan pipa-pipa layak di miliki di Indonesia, bahkan Indonesia, dapat ekspor produk tersebut ke luar negeri yang mengembangkan Geothermal. Tidak seperti  saat ini,” kata Riki.

Namun demikian, untuk mewujudkan hal tersebut, tentu diperlukan peran Pemerintah. Salah  satu alasannya adalah harga listrik energi terbarukan yang relatif lebih mahal dibandingkan  dengan batubara dan atau saat ini dengan harga listrik PLTS/tenaga surya.

Lebih lanjut, Riki menjelaskan bahwa dalam mendukung upaya pemerintah untuk derisking  eksplorasi, mendorong secara langsung ekonomi lokal, mendorong terciptanya Carbon Credit,  mendorong investasi dan jasa dalam negeri, mengurangi impor energi yang sekaligus membantu  pemerintah dalam menggung biaya lingkungan (avoided cost), membangun geothermal  smallscale project di Indonesia Timur dan daerah isolated (lainnya yang tidak terjangkau dengan  jaringan transmisi PLN) untuk Demand Creation, mendorong program pemerintah Renewable  Energy Based Industrial Development (REBID) dan Renewable Energy Based Economic  Development (REBED), serta merealisasikan target pengurangan emisi sampai tahun 2050  sebagaimana Perjanjian Paris (COP21), diperlukan adanya GeoDipa sebagai satu-satunya  BUMN yang fokus dalam pengembangan Energi Terbarukan Panas Bumi/Geothermal. 

Visi Misi GeoDipa sejalan dengan apa yang diupayakan oleh Kementerian Keuangan, antara lain  mendukung program pemerintah dalam penyediaan listrik yang aman dan ramah lingkungan dan  menciptakan keekonomian nasional yang berkeadilan melalui penugasan di sektor energi  terbarukan geothermal/panas bumi.

Sebagai BUMN dan SMV Kementerian Keuangan, GeoDipa  melaksanakan penugasan untuk merealisasikan target Rencana Umum Energi Nasional  sebagaimana amanat Perpres 22 tahun 2017, yaitu target PLTP 7.2 GW pada tahun 2025 (sekitar  16% dari total target EBT), serta target PLTP 17.5 GW pada tahun 2050 (sekitar 10% dari total  target EBT).

BACA JUGA:   Raih Kontrak Ekspor Vaksin Rp 1,4 T, Bio Farma akan Bangun Pabrik Baru

Sementara dalam program sinergi lintas SMV yang dilakukan oleh GeoDipa antara lain, Realisasi  Pembiayaan Infra Struktur sektor Panas Bumi dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)  (PT SMI), Pelaksanaan Penjaminan dengan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PT  PII) untuk direct landing proyek PLTP D2P2 dengan ADB, Derisking Eksplorasi (melaksanakan  eksplorasi langsung, Government Drilling dan penugasan eksplorasi BUMN), serta ikut  mensosialisasikan fasilitas KPBU seperti Project Development Facility (PDF), Viability Gap Fund  (VGF), dan Penjaminan Pemerintah yang melalui PT PII.

Riki juga menjelaskan bahwa kebutuhan listrik nasional sesuai target Direktorat Jenderal Energi  Baru Terbarukan (EBKTE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah sekitar  8.000 MW, sementara saat ini baru terealisasikan sekitar 2.100 MW. Untuk mencapai target tersebut, tidak mungkin hanya mengandalkan peran dari GeoDipa dan IPP, namun juga perlu  dukungan pemerintah yang lebih besar lagi melalui BUMN GeoDipa dalam derisking pengusahaan.

“Sedangkan dalam mengurangi kadar emisi karbon dunia melalui PLTP di Indonesia menjadi  penting sekali karena total penurunan Emisi GRK nasional yang akan diberikan oleh GeoDipa  dalam Road Map perusahaan untuk 1.000 MW PLTP baru menyumbangkan sekitar 130 Juta Ton  CO2 emisi. Saat ini GeoDipa masih menyumbangkan sekitar 5 Juta Ton CO2 emisi dan apabila  8.000 MW PLTP terjadi di Indonesia berarti Indonesia akan menyumbangkan 8 x 130 atau sekitar  1.040 Juta Ton CO2 emisi setiap tahunnya,” ujar Riki.

Foto: geodipa.co.id

Previous Post

Erick Thohir Angkat Doni Monardo sebagai Komisaris Utama Inalum

Next Post

Inilah Aksi Bank Klaten Wujudkan Visi Sekop Tukul Emas

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR