Jakarta, TopBusiness – Sebagai perusahaan perbankan, PT BPR Jombang sadar betul bahwa pemuda saat ini memiliki peran penting dan strategis dalam menjalankan program kerja sebuah perusahaan. Meski demikian, seorang pemuda tetap membutuhkan sosok figur yang bijak, yang mampu membimbing dan mengontrol setiap tindakannya agar sejalan dengan target yang direncanakan.
Demikian pernyataan Adam Joyo Pranoto selaku Direktur Bisnis PT BPR Bank Jombang Perserodas dalam acara penjurian TOP BUMD Awards 2021 yang diadakan Majalah TopBusiness, berlangsung secara daring, Rabu (9/6/2021).
“70 persen karyawan masih muda, semangat muda. Inilah yang mejadi salah satu penyebab kinerja BPR Jombang terus mencatatkan kinerja positif. Namun millennial ini ternyata ada kekurangannya, yaitu grasah grusuh (tergesah-gesah). Nah yang senior melakukan controlling. Jadi mesinnya anak-anak muda,” ungkapnya.
Selain anak muda, lanjut Adam Joyo, untuk meningkatkan kinerja yang memuaskan, pihaknya membuat sitem intensif penilaian kinerja (SIPK). Dalam system ini, semua karyawan berhak memiliiki kesempatan untuk mendapat intensif per tiga bula dengan catatan laba tercapai dan indikatornya positif.
“Selai itu pula, untuk memantik semangat para karyawan, menejemen memberikan bonus setiap tiga bulan sekali dengan catatak pembukuannya positif. Dan ini ada indikatornya. Contoh, mereka wajib memposting di sosmed mrk untuk mempromosikan Bank (BPR) Jombang. Salah satunya untuk penilain itu, berikutnya adalah target mereka harus ukur dan ukurannya jelas, itu yang mempengaruhi tunjangan kinerja yang mereka terima. Di kita namanya sistem SIPK lah,” lanjutnya mewakili Direktur Utama BPR Jombang Afandi Nugroho.
Kinerja Keuangan
Pandemi Covid-19 berdampak pada ragam sector ekonomi, tak terkecuali BPR Jombang sebagai entitas bisnis keuangan. Meski demikian, kehadiran pandemi sebagai wabah nasional tetap membawa hikmah tersendiri. Sebab itu, BPR Jombang selalu mencara peluang dan melakukan penyesuaian strategi agar penyaluran kredit tetap berjalan. Saran utamanya yakni pertanian dan perdagangan.
“Alhmdulillah tercapai. Nah ketika pandemi, kita melakukan penyesuain untuk strategi penyaluran kredit. Sektor ekonomi yang bergerak salah satunya adalah perdagangan yang kedua pertanian. Inilah kinerja keangan thn 2020,” tutur Adam sambil menunjuk materi presentasinya.
Sector ini (pertanian), lanjut Adam, adalah sector yang masih bisa bertahan di tengah pandemi. Kalau perdagangan masih memiliki risiko. Oleh sebab itu BPR Jombang melakukan penyesuain strategi terjun ke sektor pertanian dan juga perdagangan yang berkaitan. “Saat pandemi, pertanian masih survive tidak terdampak langsung. Bagaimana caranya kita tetap bertahan dengan kondisi yang ada. Misalnya seorang petani ambil bibitnya dimana? pupuk dimana? Kita tahu dan itu juga jadi nasabah kami, jadi mitra kami. Berikutnya ketika mereka panen, akan jual kemana, tengkulaknya dimana harganya berapa? Kita tahu juga. Inilah yang bisa meminimalisir risiko sehingga penyaluran kredit kita masih bisa survive. Tabungan tercapai, deposito tercapai,” paparnya.
Berikut kinerja keuangan BPR Jombang tahun 2020; Aset memiliki target Rp 507,026 miliar dan terealisasi sebesar Rp 511,531 miliar. Kredit yang diberikan target Rp 367,885 miliar terealisasi Rp 365,354miliar. Target tabungan Rp 90,449 miliar terealisasi Rp 92,135 miliar. Deposito target Rp 64,487 miliar tercapai sebesar Rp 87,07 miliar. Modal disetor (Pemda) Rp 50,595 miliar terealisasi Rp 50,263 miliar (Pemda) dan Rp 332 miliar (Kopdar). Pendapatan Ops Rp 67,089 miliar tercapai Rp 65,904 miliar. Biaya Operasional target Rp 60,253 miliar tercapai Rp 58,612 miliar. Laba sebelum pajak target Rp 6,426 miliar dan terealisasi Rp 6,650 miliar.
Bahkan untuk Kinerja Kesehatan Bank, BPR Jombang pun mencatatkan hasil yang positif dengan kategori Sehat. Seperti KPMM sebesar 24,96, NPL (neto) sebesar 2,77, ROA sebesar 1,49, BOPO sebesar 88,21, LDR sebesar 83,11 dan cash ratio sebesar 27,09. Semua rasio tersebut masuk kategori sehat.
Penulis: Abdullah Suntani
