Jakarta, TopBusiness – Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) menilai, penerapan prinsip-prinsip governance, risk management dan compliance atau GRC sebagai sebuah elemen paling mendasar guna mewujudkan sebuah prestasi kinerja bisnis.
“Jadi memang sebagaimana yang saya katakan bahwa GRC ini adalah elemen paling mendasar dalam kami mewujudkan seluruh achievement-achievement di MRT Jakarta,” kata Direktur Utama MRT Jakarta, William P. Sabandar, saat sesi pendalaman materi presentasi berjudul The Strategic Role of GRC for Business Continuity in the Covid-19 Pandemic, secara daring melalui aplikasi zoom meeting online, di Jakarta, hari ini.
Dalam konteks itu, perseroan daerah ini telah mengimplementasikan praktik GRC di dalam kegiatan bisnis secara konkret dengan mencontohkan soal pengadaan lahan. “Jadi kami mulai misalnya soal bagaimana kita membangun risk profile, kemudian strategic risk sampai risk operational. Jadi di dalam setiap meeting-meeting bulanan kita, atau setiap rapat BoD ini kita bahas. Misalnya, konstruksi. Setelah kita bahas kontruksi, kita mulai mengantisipasi misalnya masalah pengadaan lahan. Masalah pengadaan lahan ini berpotensi untuk memperlambat kegiatan kita. Jadi ini kita masukkan sebagai top risk,” ungkap dia, dihadapan Dewan Juri TOP GRC Awards 2021.
Dengan dikategorikan, contoh pengadaan tanah dalam top risk, maka seluruh insan perseroda mulai dari jajaran top hingga bottom bahkan komisaris menjadi sesuatu yang harus bisa diselesaikan, tanpa menimbulkan risiko yang berarti.
“Nah, dengan kita masukkan masalah pengadaan lahan ini untuk menjadi top risk, maka seluruh komponen korporasi itu akan melihat itu sebagai risiko yang harus ditangani, paling utama. Dan ini bukan hanya terjadi di direktur konstruksi, tetapi juga dilakukan oleh direktur yang terkait dengan corporate management, kemudian dilakukan oleh kami sendiri sebagai direktur utama. Bahkan kalau masalah pengadaan lahan ini, kemudian kita lihat akan menghambat progres pekerjaan, itu kita eskalasi ke dewan komisaris, bahkan sampai kepada pemegang saham. Itu yang terkait salah satu contoh dalam kaitan dengan konstruksi,” lanjut dia.
Kemudian William juga memisalkan soal penerapan GRC pada saat pandemi. “Kemudian, kami ambil contoh dalam kaitan dengan operasi. Jadi kalau dengan kaitan operasi ini sangat relevan, tahun lalu itu kita berhadapan dengan situasi pandemi. Pandemi ini memang mempersyaratkan MRT Jakarta tetap beroperasi dengan standar terbaik, walaupun jumlah penumpang itu rendah. Dan apa yang kita dorong itu adalah bagaimana tetap mengedepankan safety, security, kebersihan. Dan ini kita lakukan dengan protokol BANGKIT (bersih, aman, nyaman, go green, kolaborasi, innovation, dan tata laksana). Dan ini kita monitor dari waktu ke waktu. Jadi ini adalah risiko jangan sampai dengan pandemi ini kemudian ada keterpaparan Covid-19 baik pada karyawan maupun pada penumpang,” ungkap dia.
Bahkan dirinya tidak bisa membayangkan, jika GRC tak benar-benar dilakukan akan berpotensi mengurangi reputasi perusahaan itu sendiri. “Kalau itu kejadian maka bisa kebayang reputasi yang akan dihadapi oleh korporasi, dan imej publik bahwa MRT itu tidak aman dan terikat seluruh komponen-komponen operasi kami. Ini kita monitor satu per satu dan ini diturunkan sampai ke risk officer kami di level divisi untuk semua insan MRT Jakarta bisa memastikan berjalan dengan baik. Dan Alhamdulillah ini terkawal, kita bisa mempertahankan standar keberhasilan sampai di akhir tahun 2020,” ungkap dia.
Di kesempatan yang sama, Komisaris Utama MRT Jakarta, M. Syaugi menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan praktik-praktik GRC. “Kami dari sisi pengawasan selaku dewan komisaris. Jadi bagaimana tadi implementasi GRC dengan kinerja usaha. Kami memang melihat dari sisi governance-nya, betul-betul kita pantau. Apa yang memang harus dikerjakan oleh direksi, maupun dewan komisaris. Kita selalu awasi secara detil melalui dashboard, termasuk hubungan antara perusahaan dengan anak perusahaan, kemudian termasuk joint venture,” ungkap dia.
