Jakarta, businessnews.id – Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi meluncurkan buku “Outlook Energi 2015” yang memberi gambaran tentang permasalahan energi di Indonesia serta proyeksi kebutuhan dan pasokan energi serta emisi gas rumah kaca (GRK) untuk kurun waktu 2013—2050.
Buku OEI 015 dengan tema “Pengembangan Energi dalam Mendukung Program Substitusi BBM (Bahan Bakar Minyak)” dibahas dua skenario yaitu skenario pembangunan berkelanjutan dan kasus baseline emisi GRK. “Kasus baseline merupakan kasus tidak adanya tambahan pemanfaatan energi terbarukan dan teknologi efesien yang tidak berdampak terhadap peningkatan biaya energi,” ungkap Kepala BPPT Unggul Priyanto saat peluncuran buku OEI 2015, di Jakarta, Selasa (2/11).
Unggul mengatakan energi penting guna mendukung pembangunan nasional berkelanjutan, karenanya menuntut pengelolaan energi yang komprehensif menjadi kata kunci dalam mencapai pemanfaatan energi yang berkesinambungan. Mulai dari sisi penyediaan, pemanfaatan dan pengusahaanya agar terencana, rasional, optimal dan berkelanjutan.
Dalam proyeksi outlook energi BPPT diungkap total penyediaan energi primer untuk memenuhi kebutuhan energi skenario pembangunan berkelanjutan meningkat 8 kali lipat dengan laju pertumbuhan rata-rata 5,7 persen dari 1179 juta setara barel minyak (SBM) pada 2013 menjadi 9.281 juta SBM pada 2050.
Pada tahun 2050, bauran energi primer tahun tersebut didominasi oleh batubara (45,5 persen), disusul minyak bumi/BBM 27,7 persen, gas bumi 15,1 persen dan EBT 11,7 persen. Melihat proyeksi itu total produksi energi dalam negeri (fosil dan EBT) pada tahun 2031 sudah tidak mampu lagi memenuhi konsumsi domestik. Diperkirakan Indonesia akan menjadi negara net importir energi. Selain itu, Indonesia akan menjadi negara net importir gas tahun 2026. Ketergantungan impor energi yang tinggi dapat membahayakan ketahanan energi nasional. (red/ju)