Alih profesi menjadi petani berlangsung massif dalam setahun terakhir. Diperlukan dukungan pemerintah agar petani baru ini betah menjalani profesinya.
Novi Listy, seorang biduan dangdut tiba-tiba viral di media sosial. Bukan soal penampilannya di panggung, tapi karena video TikTok pribadinya yang menunjukkan ia sedang menyemprot tanaman di tengah ladang. Ia tampak mengenakan kerudung dan sepatu boots layaknya ibu-ibu petani pada umumnya. Jauh dari penampilannya kala di panggung yang glamour dan seksi.
Sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia dan sepinya order manggung, Novi beralih profesi menjadi petani. “Setelah adanya pandemi siapa nih yang ganti kerjaan,” tulis Novi dalam caption video TikToknya yang diunggah Selasa, 1 Juni 2021. Video TikTok tersebut pun dibanjiri ribuan like dan komentar dari warganet.
Novi hanya salah satu dari jutaan masyarakat Indonesia yang beralih profesi menjadi petani saat pandemi. Berdasarkan data BPS, pertanian memang menjadi satu-satunya sektor usaha yang masih bertumbuh di masa pandemi.
Setelah pandemi, menurut Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, jumlah petani di Indonesia bertambah delapan juta orang. “Saat ini, kurang lebih ada delapan juta petani baru,” kata Syahrul kepada media, baru-baru ini.
Pandemi yang sudah berjalan lebih setahun ini diakui telah membuat banyak orang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) . Banyak dari mereka kemudian pulang kampung menjadi petani. “Semua yang di-PHK, keluar dari perusahaan, mereka sekarang bertani supaya enggak stres juga,” kata Syahrul lagi.
Pertanian memang menjadi salah satu sektor yang masih bisa memberi kontribusi positif saat pandemi. Kebutuhan pangan yang terus ada, bahkan meningkat, dikatakan Mentan, membuat sektor pertanian banyak menyediakan lapangan pekerjaan. “Pertanian itu banyak lapangan kerja, jadi kalau mau cari uang tidak usah ke kota, di desa saja dengan bertani,” ucap Mentan.
Beri Kemudahan
Terkait soal adanya penambahan jumlah petani delapan juta orang, Anggota DPR RI Komisi IV, Andi Akmal Pasluddin, meminta negara untuk cepat bertindak dengan membuat regulasi dan memberi kemudahan bagi petani baru agar mereka tetap betah dan bertahan meski pandemi nantinya berakhir.
Terlebih, kata Akmal, angka pengangguran muda di Indonesia saat ini relatif tinggi, mencapai 20 persen. Padahal, negara Asia Tenggara lainnya belum ada yang menyentuh angka 15 persen. “Jadi ini kesempatan pemerintah memberi alternatif jalan keluar pada calon petani muda yang nantinya menjadi profesional di bidang pertanian,” kata dia.
Potensi sumber daya alam Indonesia juga sangat mumpuni untuk menampung para calon petani sebanyak mungkin. Bentangan alam dan tanah garapan baik di bidang kelautan, perikanan, tambak dan garam, maupun bidang pertanian, peternakan, serta kehutanan masih cukup luas.
“SDM kita yang sangat banyak ini mestinya dapat tertampung di bidang pertanian pangan, termasuk perikanan kelautan karena ruang garapan masih banyak,” kata dia.
Namun, Akmal masih meragukan para petani baru yang beralih profesi tersebut akan bertahan lama karena banyak di antara mereka yang melakukan karena keterpaksaan. Padahal, bila pemerintah mau membantu dan mengarahkan termasuk memberikan bimbingan kepada petani baru, akan ada harapan besar yang dapat dicapai baik terkait persoalan ekonomi maupun kebutuhan pangan.
“Saya minta kepada pemerintah agar jangan ragu menyeriusi bidang pertanian pangan ini. Naikkan porsi APBN untuk sektor pertanian, pangan, perikanan kelautan, dan kehutanan,” kata Akmal.
Fasilitas KUR Pertanian
Menanggapi soal dukungan pemerintah kepada para petani, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy menyatakan, pemerintah telah memberikan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian kepada petani guna menopang aktivitasnya. Meski memiliki kewajiban mengembalikan karena sifatnya adalah pinjaman, KUR Pertanian tak memberatkan petani sama sekali. “Melalui KUR Pertanian kami akan terus membantu petani dalam aktivitasnya meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian, di samping pengadaan alat mesin pertanian dan lain sebagainya,” kata Sarwo Edhy.
Di lembaga yang dipimpinnya, Sarwo Edhy menjelaskan ada Direktorat Pembiayaan yang menjadi kepanjangan tangan Kementan dalam mempermudah petani mengakses perbankan dalam memanfaatkan KUR.
Kementan juga menggerakkan Fasilitator Pembiayaan Petani Swadaya (FPPS). FPPS ini untuk meningkatkan akses petani terhadap sumber pembiayaan pertanian seperti KUR dan juga pengawasan agar dana KUR digunakan sesuai dengan peruntukannya.
Saat ini, kata Sarwo, peran FPPS telah diperluas untuk mendampingi petani agar dapat terhubung ke sumber-sumber pembiayaan pertanian seperti program KUR maupun pembiayaan lainnya. FPPS juga berperan membantu petani menghitung jumlah kebutuhan mereka yang dapat ditanggulangi dengan KUR Pertanian.
FPPS juga berperan melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana KUR Pertanian agar sesuai kebutuhan yang diajukan.
Tetap Jadi Andalan
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indef Ahmad Tauhid menilai, sektor pertanian masih akan tumbuh positif di saat pandemi covid-19 berlangsung. Hal ini bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I 2021, sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 2,95 persen. “Saya kira pertanian akan tetap menjadi andalan selama pandemi berlangsung,” ujar Tauhid.
Berdasarkan data BPS, subsektor tanaman pangan pada kuartal I 2021 menyumbang 10,32 persen atau naik 2 digit dari perkembangan angka sebelumnya. Begitupun dengan subsektor hortikultura yang tumbuh sebesar 3,02 persen dan peternakan 2,48 persen.
Di sisi lain, BPS juga mencatat sekitar 30 persen tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor pertanian. Angka tersebut tentu saja menjadi angin segar bagi perbaikan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Tauhid, migrasi besar-besaran warga kota yang kini menetap dan menjadi petani di desa dinilai sangat bagus, meski diperkirakan berlangsung dalam waktu yang singkat. “Ini akan menjadi buffer sementara dan mereka akan kembali ke kota begitu ekonomi mulai pulih. Mereka umumnya bekerja pada sektor informal dan UMKM,” ujar Tauhid.
*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di E-Magz Majalah TopBusiness
